Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Suatu hari seorang pria hendak menghantar putra tunggalnya ke sekolah. Sebelum berangkat, pria itu mengajak istri dan putranya berdoa seperti biasanya.
“Tuhan, hidupku, hidup istriku dan hidup anakku hari ini kuserahkan kepadaMU. Apapun yang terjadi pada hari ini terserah kehendakMu saja. Amin”
Saat dalam perjalanan menuju ke sekolah si anak, mereka mengalami kecelakaan yang merenggut kedua mata sang anak. Ibu dari anak itu begitu histeris dan ayahnya amat terpukul, tetapi si anak tenang-tenang saja.

Karena kedua matanya buta, anak tersebut tidak dapat melanjutkan sekolah. Ia hanya bisa tinggal dirumah dan bermain piano tua peninggalan kakek buyutnya. Selama bertahun-tahun ia hanya bermain piano hingga ia menjadi seorang pianis buta yang terkenal, namun selama bertahun-tahun itu pula kedua orang tuanya menyalahkan Tuhan atas kebutaannya.

Dengan penghasilannya sebagai seorang pianis, anak itu bisa menghidupi keluarganya dan mengangkat keadaan keluarganya yang dulunya serba pas-pasan. Ia bisa menikah dan memiliki anak-anak yang sehat.

Pada suatu hari, sebuah stasiun tivi swasta mewawancarainya dan keluarga. Ketika kedua orang tuanya ditanyai, mereka mulai melontarkan ketidak puasan mereka pada Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan yang mengambil mata anaknya padahal anak itu begitu cerdas dan menjadi kebanggaan mereka. Bagaimana mereka begitu berhemat agar si anak bisa terus sekolah walau sering kali mereka hanya bisa makan sekali sehari agar bisa membeli buku pelajaran. Mereka telah menggantungkan banyak cita-cita pada anaknya, namun Tuhan dengan ‘tidak adilnya’ merenggut penglihatan anak semata wayang mereka.

Mendengar itu, si anak lalu tertawa kecil dan mulai bicara “Tuhan itu sayang sama saya, tidak pernah sekalipun Ia berlaku tidak adil. Malam hari setelah kecelakaan itu, saya bermimpi bertemu Tuhan dan saya melakukan hal yang sama seperti ayah dan ibu. Saya mengeluh dan bertanya mengapa harus saya yang mengalami musibah ini. Mengapa Ia harus mengambil mata saya, tidak cukupkah kami hidup menderita dan kekurangan hingga penglihatanku juga harus diambil? Lalu Tuhan menjawab saya – ‘bukankah kamu dan kedua orang tuamu sendirilah yang berserah sesuai kehendakku? Sekarang saat aku berkehendak, mengapa engkau mengeluh?’ – Tuhan berdiam diri sejenak dan memandangku – ‘Tunggu dan rasakanlah, rencanaKu itu indah bagimu’ katanya lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkannya semua pada Tuhan.

Hidup kami dulu teramat susah, untuk makan saja sering kami kelaparan karena memaksakan diri untuk membayar biaya sekolahku. Ketika aku buta dan terpaksa berhenti sekolah, kami baru sedikit bisa bernafas. Piano tua warisan kakek yang tidak laku-laku dijual itu menjadi satu-satunya hiburanku, bahkan membawa hidupku hingga seperti saat ini. Coba bayangkan andai Tuhan tidak mengambil mataku, paling-paling aku menjadi pegawai rendahan seperti ayah dahulu.”

Si anak menghela nafasnya lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Apapun yang terjadi saat ini adalah kehendak Tuhan yang indah. Oleh karena itu, hingga saat ini pun aku tetap berserah pada kehendakNya. Dan ketika Ia berkehendak, aku tidak akan mengeluh”
Hikmat MU tidak terselami ..maka jadilah kepadaku seperti apa yang KAU kehendaki... (O̴̴̴̴̯͡ .̮ O̴̴̴̴̯͡)
Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan,

Bayi : "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil & lemah."

Tuhan : "Aku sudah memilih 1 malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."

Bayi : "Tapi di sini di dalam surga apa yang pernah kulakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya."

Tuhan : "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangantan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

Bayi : "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?"

Tuhan : "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa paling indah yang pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara."

Bayi : "Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"

Tuhan : "Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa."

Bayi : "Saya dengar bahwa di bumi banyak orang yang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi saya?"

Tuhan : "Malaikatmu akan melindungimu walaupun hal itu akan mengancam jiwanya."

Bayi : "Tapi saya pasti akan sedih karena tidak melihatMu lagi."

Tuhan : "Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan,
"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?"
Jawab Tuhan,
"Kamu akan memanggil malaikatmu, IBU (O̴̴̴̴̯͡ .̮ O̴̴̴̴̯͡) 





POHON

Orang-orang memanggilku "Pohon" karena Aku sangat baik dalam menggambar pohon. Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali, tapi hanya ada satu wanita yang benar-benar sangat kucintai.

Dia tidak cantik, tidak memiliki tubuh seksi. Tapi, dia sangat peduli dengan orang lain. Gayanya yang sederhana dan apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya, dan kekuatannya. Aku menyukainya, sangat!

Satu-satunya alasanku tidak mengajaknya kencan karena, aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku takut, jika kami bersama, semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Karena itu, aku memilihnya untuk hanya menjadi "sahabat". Menjadi sahabatnya, aku akan bisa 'memiliki'nya tiada batasnya. Tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.


Selama ini dia selalu menemaniku dalam berbagai kesempatan, sebagai sahabat.. Dia tahu aku mengejar gadis-gadis lain. Ketika dia melihatku mencium pacarku yang ke-2, dia hanya tersenyum dengan berwajah merah. "Lanjutkan saja," katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami.

Esoknya, matanya bengkak dan merah. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis. Aku pun berusaha membuatnya tertawa dengan mengajaknya bercanda sepanjang hari.

Kali lainnya, di sebuah sudut ruang dia menangis. Hampir 1 jam kulihat dia menangis. Aku paham betul apa penyebabnya. Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Mereka berdua perang dingin. Aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin, tapi Aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku.

Esoknya dia masih bisa tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia. Aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang kelima, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku.

Aku bercerita bahwa aku telah memutuskan hubungan dengan pacarku. Sementara, dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang.

Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik. Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat, dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak. Dan, aku menangis!

Handphoneku bergetar, ada SMS masuk.

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


DAUN

Aku suka mengoleksi daun-daun, karena aku merasa bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk bisa meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali.

Selama ini aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "sahabat". Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya: cemburu.

Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Aku menyukainya dan aku juga tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak pernah mengatakannya? Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?

Waktu terus berjalan, hatiku semakin sedih dan kecewa. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekadar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati. Aku tahu kesukaannya, kebiasaannya, tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa kupahami. Kadang aku merasa bodoh, karena aku juga berkeras tidak mau mengungkapkan perasaanku. Selain alasan itu, aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemani, dan mencintainya. Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku.

Seorang pria mengejarku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku. Aku mulai berpikir, mungkinkah aku bisa memberikan sebuah ruang kecil di hatiku untuknya?

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Aku tahu Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Meski berat, akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal. Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

ANGIN

Aku menyukai seorang gadis bernama Daun. Tapi, dia sangat bergantung pada Pohon sehingga aku harus menjadi 'Angin' yang kuat agar bisa meniupnya hingga terbang jauh dari pohon.

Aku selalu memperhatikan Daun duduk sendirian atau bersama teman-temannya, memerhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya.Memperhatik annya menjadi kebiasaanku, seperti Daun yang suka melihat Pohon. Satu hari saja tak kulihat dia, aku merasa sangat kehilangan.

Aku melangkah dan tersenyum padanya. Kuambil secarik kertas, kutulisi dan kuberikan padanya. Dia sangat kaget. Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku. Esoknya, dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu. Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi. Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

Aku kembali menghampirinya dengan kata-kata yang sama. Meski sangat pelan, akhirnya dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku. Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Hampir setiap kali dia mengalihkan pembicaraan, tapi aku tidak menyerah. Keputusanku bulat, aku ingin memilikinya.

Suatu hari, dia bilang bahwa dia memberikan kesempatan untukku. Kuletakkan telpon, melompat, berlari seribu langkah ke rumahnya. Dia membuka pintu bagiku. Kupeluk erat-erat tubuhnya. Akhirnya ak bisa membuat daun meninggalkan pohon dan berjanji akan membawanya terbang melihat dunia....
 Gelisah malam ini menghantuiku.
Entah apa yang ku pikirkan,
Perut pun bergejolak tak bersahabat.
Dengan segelas anggur temani ku lalui malam....
Ku reguk nikmatnya rasa.....

Dunia seakan mengambang ku rasa.....
Namunku sadar masih...(aku tak mabuk kataku dalam hati)

Akalku mulai berkurang,
Namun ku coba goreskan kata seindah mungkin.

Ini kata hatiku, ini jiwaku, disini ku curahkan sejuta asa...
Walau pun aku bukan penyair....

Namun..
Ku hanya ingin belajar menulis.
Walau tulisanku masih layaknya anak EsDe yang baru belajar mengeja aksara...
Sekata demi kata...
Sebait demi sebait,dan kurasa kini terangkai seuntaian kata-kata indah...
dan kuyakini kata-kataku ini memang indah...!!!

Oh...
Benar saja aku telah di kuasai oleh Wine di gelasku...
Hingga kepalaku terasa berat dan kata-kataku tak beraturan bak besi berkarat yang tampak lapuh.
kata-kata pun mulai kacau dan terucap berat...
sungguh aku tampak sekarat kini...........

Tinggal seteguk lagi ku reguk habis isinya...
Wine buatku melayang.............
Jauh....
Tinggalkan banyak masalah yang ada...........

Upss...
Bukan masalah...
aku tak punya masalah dalam hidupku....(Meracau ungkapan ku)
hanya sekedar menyenangkan diri saja....

Ini tulisan karya seorang penyair jalanan....
Penyair amatiran....hehehe
Pemabuk....
ya...
pemabuk tepatnya...Hizk

kini....
regukan terakhir bablas  sudah.
habis Wine habis goresan...habis pula cerita.
Waktunya ku terlelap....

Co,28 Dec 2010.
Denting jam berdetak kalut ku rasa,Getar gemuruh hatiku melonjak
Lewat diary lusuh ini masih sempat ku tulis serangkaian kata,Mencoba mengabadikan sebuah kisah

Kisah hidupku...
Kisah cintaku juga...
Kisah antara aku dan kamu...
Kisah yang kacau dan rusuh...

Kebersamaan kadang kala hanya jumpa semu bagiku
Tak senang bila lihat wajah mesum mu...
Jijik.... ( kataku berterus terang)
Tapi heran, kau tak marah, malah tersenyum hambar.
Sekilas terbersit sesal mengataimu...Namun geram lebih merajai hati dibanding kasih.

Kau Egois namun ku cinta kan kau (ungkapmu suatu ketika)
Aku tertegun, menatap tajam padamu
Namun tak berceloteh seperti biasanya...
Mungkin mencoba menyelami katakatamu tadi...
Tapi akalku tak terima kau menudingku...(tapi jika ku marah, egolah aku benar pikirku sontak)
Maka ku hanya diam, tak ingin menggubris apa katamu tentang aku...
Toh aku tak ingin pedulikan kamu (pikirku)

Saat ini...
Dalam kesendirian kucoba berfikir jernih.
Apa Arti kebersamaan yang selama ini terjalin,bukankah bahagia yang di tuju dalam setiap hubungan.
Jika terus bersitegang,apa gunanya !!!
(pikirku dalam kebimbangan)
Namun aku benci muka mesum mu...benci caramu bersikap, benci segalanya tentang mu...
Kau bukan tipe idamanku ( kataku sekali pernah kala itu)

Kau marah dengan rahang menggeram, dan ku lihat matamu menggenang butiran bening dan kulihat pula lekas kau menyekanya.
Hatiku mulai tergugah,tak tega juga rasanya melihat kau begitu.

" jika kau tak lagi ingin bersama, kita akhiri sampai di sini "
Katamu sesudah sekaan lambat bening air matamu...dan kau berlalu menjauh.
Ku tatap hingga punggungmu menghilang di antara keremangan malam.

Tak mencoba mencegahmu pergi...tak juga mengusirmu dari hari-hariku.
Ku mencoba menutup mata hatiku,mencoba mengubur dalam-dalam tentang kamu...
Mungkin kau bukanlah takdirku.

Hidup setelah tanpa kau hiasi rona hariku,ada sesuatu yang hilang ku rasakan...
Ada kehampaan yg menyelinap relung hatiku, tak ada lagi suara bising kala pagi kau meracau ganggu tidurku.
Tak ada lagi suara omelan yang mengatur kelakuanku.

Tiba-tiba saja aku merasakan sendiri di dunia ini...
Apakah aku merindukannya ???

Ku coba buang jauh bayangan itu, bukankah aku bencikan dia.
Namun semakin ku coba menepis, makinku tersiksa...

Kembali renungkan semua yang ada dalam gelap tanpa cahaya,
Kembali menilik balik kisah antara kita...
Ku lihat dengan mata batinku yang mulai terbuka
Ternyata kau benar,,,,

Egoku tlah lantakkan perisai hatimu.
Sesal dalam sadarku kini mungkin tlah bercacat celah.
Kau tlah melangkah kian jauh,Berlari pun aku tak mampu menggapai mu lagi.
Berteriak pun mungkin kau tak kan mendengar,melunglai sudah harapanku pupus.

Biarlah....
Lupakan kisah yang sempat tercipta.
Dalam torehan pena ini kan ku abadikan cerita tentang kita yang sempat terjalin, walau tak lama...
Dan darimu kan ku jadikan pelita bagi jalan yang masih belum terang ku lihat.
Dan darimu pula kan ku ingat, Egoku tlah tamatkan cerita yang sempat ada.


Co, Desember 30,2010
Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah
pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si
gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat.
Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata,
"Kita pulang aja yuk...?!?".

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?"
Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?"
Si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini.
Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya,ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana."

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu.
Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu
mencintai rumahnya,perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya.
Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya,dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.
Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik,hangat, sangat
perduli ... betul-betul seseorang yang sangat baik
tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu!

Untung ada kopi asin!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya,dan setiap saat sang putri membuat
kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa
itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka.
Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin.
Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama?
Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam.
Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita!
Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya,karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak.
Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah
sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu.
Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku.
Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya,saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah.
Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?
Si gadis pasti menjawab, rasanya manis.

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan.
Sama seperti kejadian kopi asin tadi,... Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang
garam terasa lebih manis daripada gula.
Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.
Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Jakarta kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.
Hari ini adalah hari keempat belas Astri berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Astri juga sudah dimasukkan ke mobil.
Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.
"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.
Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.
"Sudah mau pulang?"
"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."
"Baiklah, Astri. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kamu tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."
Astri mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."
Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.
Astri beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kevin, cowok yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Astri belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kevin padanya. Kecelakaan mobil telah membawa cowok itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Astri terpuruk dalam kesendiriannya kini.
Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Astri sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Kevin. Cowok itu mengajaknya dinner bareng seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"
"Aku nggak tahu, Vin." Astri menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.
"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Kevin menggenggam jemari Astri lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.
Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.
Astri masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Kevin membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang ngerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.
Mobil Kevin yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, cowok itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Astri beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.
***
Satu tahun lebih berlalu....
Tak mudah memang bagi Astri menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Andhika.
Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Astri bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.
"Astri, tunggu! Aku mau ngomong."
Astri memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Dhika berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.
"Aku nggak punya banyak waktu," Astri lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.
"Please, aku cuma pengen nanya. Boleh nggak aku ke rumah kamu malam minggu ini?" imbuh Dhika sambil tersenyum kikuk.
"Kenapa? Beberapa jam aja nggak lihat aku bikin kangen, ya?" tatapan mata Astri melunak.
"Jadi boleh ya aku main ke rumahmu?"
"Siapa yang bilang boleh?" Astri mendelik. "Aku sibuk!"
"Sibuk? Emangnya mulai punya bisnis apaan?"
Astri tertawa kecil. Andhika yang baik selalu mengingatkannya pada Kevin. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Dhika. Hanya saja....
Astri menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya nggak boleh, kecuali...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kamu bisa mempertemukan aku dengan Kevin," tantang gadis itu.
Dhika terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Gimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah nggak ada di dunia ini? Astri hanya mengada-ada.
Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Astri akhirnya menjadi milik Kevin. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Dhika yakin Kevin dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.
Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Kevin meninggal akibat kecelakaan mobil.
***
Astri menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Kevin di hari jadi mereka pacaran.
"Aku bakal ngasih kamu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampe meja belajar kamu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Kevin suatu saat.
Astri mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, kalo Kevin masih hidup tentunya. Betapa Astri kangen dengan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan cowok itu saat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Astri terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Kevin. Andai saat itu dia nggak mengganggu konsentrasi Kevin menyetir dengan mengajaknya ngobrol. Andai dinner itu tak pernah ada. Ah, andai....
Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.
"Astri, ada temanmu yang datang. Kalo nggak salah namanya Dhika."
"Eh... iya, Ma." Astri buru-buru menyusut airmatanya.
Ngapain lagi Dhika kemari? Bukannya dia sudah bilang nggak usah mampir?
Di ruang tamu, Astri melihat cowok itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.
"Hai!" sapa Dhika spontan. Astri Cuma bisa diam mematung di ujung meja. Dhika kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.
"Malam minggu nggak keluar?" tanya cowok itu lagi.
Astri menggeleng. "Mana ada yang pengen ngajak cewek kuper lagi berantakan kayak aku kencan di malam Minggu."
"Kamu serius? Aku mau!"
Astri tersenyum simpul. Cowok di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Kevin. Astri tidak buta. Dia sadar perhatian Dhika selama ini.
"Tapi kamu belum mengabulkan permintaanku. Kamu belum mempertemukan aku dengan Kevin," Astri mengingatkan.
"Astri... kamu tahu sendiri kan hal itu nggak mungkin," sahut Dhika.
"Terserah."
"Sampe kapan kamu mau terus mengurung diri, As? Aku yakin Kevin juga nggak suka ngeliat kamu kayak gini," suara Dhika terdengar lembut tapi tegas.
"Kalo nggak suka, kamu boleh kok nggak peduli," jawab Astri dingin.
"Aku peduli, karena aku sayang sama kamu!" jawab Dhika gemas.
"Maafin aku, Dhika. Tapi Kevin tetap hidup di hatiku," jawab Astri setengah terbata. Kevin, kamu di mana? Berilah aku suatu pertanda kalo kamu juga nggak pernah ngelupain aku, bisiknya.
"Jangan berburuk sangka dulu. Aku nggak pernah minta kamu ngelupain Kevin, As. Aku cuma pengen kamu membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kan kamu sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersama kamu!"
Astri terpana mendengar ucapan Dhika. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.
"Aku suka sama kamu sejak dulu, As. Sejak kita pertama kali kenalan. Aku pengen kamu kembali ceria kayak dulu lagi," pinta Dhika sambil tersenyum manis.
"Thanks, Dhika. Tapi aku...."
Dhika mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Astri menatap takjub saat tangan Dhika terulur padanya.
"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kamu suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu nggak melulu koleksi barang dari Kevin." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah cowok itu.
Astri menerimanya dengan hati berdebar.
***
Angin malam menerpa ketika Astri membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Astri memandang boneka beruang kecil pemberian Dhika di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.
Astri tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Kevin di sisinya. Entah kenapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.
"Kevin," gumamnya lirih, "Aku nggak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Dhika untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."
Angin kembali berdesir. Astri membiarkan jendelanya tetap terbuka.
Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Kevin.... ©


Salam Hangat Penuh Cinta,
*Shine Huang*

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,



Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,



Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.



" Mario, suamiku....

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....

Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima"

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "

Disurat yang kesekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.. .....

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."



Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Aku kenal Damian dua tahun lalu lewat jejaring social facebook, sekedar iseng ku ingat saat itu temanku masih sangat minim.dan kulihat di Profil’y Damian foto’y ganteng,imut-imut pula.

Perkenalan dengannya biasa-biasa aja kala itu, kami saling mengenalkan diri,

I’m From Usa, katanya saat itu, dan ku perkenalan diri dari Indonesia,tanpa basa basi ku tanyakan apakah pernah keindonesia, Negara yang indah bak surga, kataku kala itu mempromosikan negri kelahiranku ini. Walau kenyataan’y jauh…(Upszzz Sorry….)

Dan katanya ia pernah kebali selama 2 minggu, dan Bali memang layaknya surga…katanya memuji.
Ya, negara’y indah & permai apa lagi orang’y kataku saking GeEr’y, ku piker ngga saling kenal ini, ngapain malu,lagian Damian jg ngga tahu aku ini, pikirku cuek.

Tak lama percakapanku via chattbox dgn Damian yang mengaku seorang mahasiswa kedokteran di New York itu,dan aku mengiyakan saja apa katanya kala itu…berhubung kendala bahasaku yg juga tak memadai,cepat2 aja ku akhiri percakapanku, “NGantuk” kataku pada’y.
Dan percakapan pun segera berakhir.

Dua bulan kemudian,aku ketemu sama si Damian lagi di dunia maya, aku jg hampir melupakan’y setelah percakapan pertamaku dgn’y.
Ia menyapaku,dan entah kenapa percakapan kala itu di mulai begitu terasa akrab,serasa aku sudah lama mengenal’y. Damian bilang kangen sama cewek indon yg dikenal’y petama kali,dan satu2’y teman asia yg ia kenal di facebook.
“Aku kagen bali,aku kangen Indonesia “ katanya.
“Ajarkan aku bahasa mu Maria” katanya.

Ahahaha….Damian yg lucu,pikirku
apa untung’y belajar bahasa indonesia, yg ada aku yg mesti di ajari sama kamu biar aku bhs inggris’y lancar,dan ngga perlu di translate lg klu ngomong sama kamu. Kataku pada’y

Damian tertawa, dan ku bayangkan tawa Damian renyah, serenyah senyum’y…
(hehehe,,,kyk kenal aja gue)

Damian cerita banyak tentang negara’y padaku,tentang kehidupannya di sana,keluarga’y teman’’y kegiatannya, dan jika aku berkenan kesana aku akan di ajak’y main salju….

Ahahaha….Damian yg lucu, ada’y nanti aku jadi patung Es,klu kenegaramu karena mati beku, kataku pada’y di antara percakapanku.

kami kian akrab, entah mengapa aku dan Damian merasa cocok satu sama lain, dan Damian makin sering menghubungi ku.
Dari hanya sekedar Chatting, kami saling tukar nomer ponsel, dan damian sering mengirimi aku kata-kata mutiara yg di terjemahkannya ke dalam bahasa indonesia, kedengarannya lucu, ngga nyambung dan asal-asalan kata-kata'y namun ku tahu Damian getol belajar bahasa ku.

"Maria.... hari ini di sini hujan salju. andai kamu liat pasti kamu senang.
"Maria...Nanti ku foto di tengah salju untukmu yaa..agar kau makin ingin ke negriku.
akan ku ajarkan kau Ski....katanya di antara sekian bayak pesan yg masuk ke inbox facebook-ku.

Oh Damian, kamu buat aku memimpikan negri bersalju itu, Damian semoga ini bukan mimpi...

"Maria....hari ini aku ke toko buku, dan aku lihat ada bingkai foto cantik di sana, bentuk'y unik dan lucu, aku yakin kamu pasti suka bingkai itu.
dan ku beli untuk taruh fotomu di sana yaa...nanti ku perlihatkan untukmu.
dan kirimkan aku foto termanismu untuk hiasi bingkai indah ini...''

katamu dlm pesan kesekian pada suatu hati.....Oh Damian yg lucu, kamu buat aku rindu saja, semoga persahabatan ini akan selalu indah seperti ini.

setahun mengenal Damian, banyak cerita-cerita yang buat aku dan Damian makin dekat, saling berbagi cerita tentang kegiatan yg kami lalui setiap hari.

''Aku bosan dengan kuliahku Damian,aku bosan dengan tugas-tugas kuliah yg membosankan.aku ingin bekerja " kataku pada Damian di kala waktu aku sedang BeTe dengan rutinitas ku sehari-hari.
Dan kebetulan aku di tawari bekerja oleh salah seorang temanku yg juga bekerja sambil kuliah.
maka jadilah aku wanita yg super sibuk dengan segudang pekerjaan yg menumpuk, bukannya makin enjoy...aku makin pusing dlm membagi waktu kuliahku yg sempat terbengkalai akibat kesibukan ku bekerja.

Damian sering menyemangatiku, menasehatiku agar tak terlalu lelah bekerja, dan sempat juga ia menawariku untuk bekerja dan sambil meneruskan studyku di negri'y.
namun itu tak mudah Damian, aku bukan seorang petarung yg tangguh dlm menjalani hidup.
aku sebatang kara jika ke negrimu.....keluhku panjang lebar pada Damian, tapi ia meyakinkan aku.

Entah mengapa, seperti di hipnotis aku begitu teropsesi dgn semua yg di katakannya.
aku mulai membayangkan dapat menapakkan kaki di negri yg katanya indah itu.
dan dgn keyakinan dan support dari Damian iseng2 ku coba menjalani prosedur yang ada.
mudah-mudahan saja opsesi ini bukan semata-mata karena Damian..(Batinku)

*****

Dari ketinggian ku lihat gundukan gunung berbatu, hutan yg gundul dan tampak kegersangan yang kerontang dengan udara dingin yg menbuat pernafasanku sakit.
Tiba mendaratkan langkah di airport ku jelajahi setiap sosok yang tampak dlm pandanganku.
Kucari sosok Damian yang katanya akan datang menjemput ku dengan setangkai mawar kesukaanku.

" Damian...jgn kau lupa pada janjimu " kataku mengerutu dlm hati setelah dua jam lamanya aku menunggu.
kegelisahan mulai mendera kala waktu terus berlalu seiring rasa lelah yg kurasakan selama perjalanan panjang ini.

"Maria...
Terdengar suara asing ku dengar menyapa namaku, mungkinkah itu Damian ?? Hatiku berlonjak seketika membalikkan tubuhku pada arah datang'y suara....

"Selamat Datang....katanya menyapaku.
"Damian...???
"Yaaaa......aku Damian katanya.
Kebahagianku memuncak, langsung ku peluk sosok yg tak kukenal sebelumnya itu,sedetik kemudian aku tersadar, ku tatap Damian dalam-dalam, ternyata Damin tak seperti yg ku bayangkan.
Damian tampak lebih gagah dari gambar yg sering ku lihat, rambut'y coklat tak seperti kebanyakan bule pada umumnya, kulit'y putih, mata'y sedikit sipit dan berlesung pipi pastinya.
(Damian indo korea, papanya waraga negara amerika sedangkan mamanya warga negara korea)
Sosok Damian sempurna dimataku, membuat aku tertegun lama menatap sosok'y di hadapanku, dan Damian tersenyum memandangku dlm keterpakuan.

***


Ternyata Damian benar-benar sosok yg sangat menyenangkan, selama dengannya aku merasa telah mengenalnya lama...
Dan seperti kata Damian, fotoku terbingkai dlm frame foto yg cantik,aku suka bingkai ini, kataku pada Damian. dan ternyata selera mu banyak kesamaan denganku Maria.....katanya sejurus kemudian.

18 Desember,

Salju turun begitu tebal, sambil berlari kau mengiringiku dlm rintik salju seperti yg pernah kubayangkan.
ku tengadahkan tangaku, wajahku terasa lembut di sapu butiran salju yg halus.
Damian berlari di belakanku lalu berhenti melihatku menadahkan tangan meraup butir-butir salju.
Damin mengusap lembut wajahku, kami saling bertatapan, lama seakan saling mendalami hati kami masing-masing.

"Kau dingin ...???
Tanya Damian padaku, dan ku jawab dengan gelengan pelan. Damian masih mengusap lembut wajahku, dan ku biarkan dia melakukan itu dengan perasaan yg begitu damai kurasakan.
Ternyata sosok Damian nyata, buakan lagi maya seperti yg selama ini ku bayangkan.

" Maria....kau tahu.
Selama ini hanya bayangmu yang ku rengkuh dalam mimpi, berhayal dapat menyentuh dan membelai wajah cantikmu dalam nyata...menatapmu penuh kerinduan.
Kini kau nyata ada di hadapanku....kau tak lagi hanya bisa ku sentuh ..tapi dapatku dekap dalam pelukanku.
"Maria.............ku ingin kau selalu ada di sini.
"Ku ingin kau selalu temani ku melewati setiap musim salju...agar dapat ku usap lembut wajahmu dalam nyata....

" Wajah Damin tersenyum...aku menyambut'y dengan kerlipan mata bahagia.
Dalam rintik salju yg selama ini hanya ada dalam hayalku, Damian memeluk erat tubuhku, ku pejamkan mata dan ku labuhkan hangat rasa yg saat ini kurasakan...

"Damian....aku mau hidup dengan mu selamanya....bisikku di sela depakapn Damian.

perlahan pelukannya nerenggang, Damian menatapku penuh kasih.
Ku pejamkan mata, lalu kurasakan kelembutan menyentuh bibirku,ku balas kecupan manis Damian.
dalam deburan nafas terbersit sebait harapan,,,,

Tuhan, jangan renggut bahagia yang kini ku gapai bersama Damian.
Buatlah bahagia ini abadi seabadi Cintamu untukku...
Sekekal kasihmu menyertaiku...
Sehangat Dekapanmu padaku dalam dingin'y salju.





~Tamat~


CO,18 Desember 2010.
Aku dan Bram memang sudah bersahabat dari kecil,Bram teman SD hingga SMP,tapi ia kakak kelas dua tingkat diatasku kala itu.namun Dona,sahabat yg ku kenal kala ku sudah duduk di bangku SMU, dan aku tak satu sekolah lagi dgn Bram kala itu, karena ia sekolah keluar negri setamat'y dari SMP.

sekian tahun tak berjumpa Bram, ternyata kami di pertemukan saat aku bekerja di salah satu perusahaan milik orang tua'y.

dan aku baru tahu saat mbak Yuli memperkenalkan pada seluruh staff jika hari itu terjadi penggantian direktur baru di perusahaan kami,yg ternyata adalah Bramantio Nugroho sahabat kecilku dulu.

namun itu sekian tahun yg lalu, kini Bram sudah jauh berbeda, dia sudah menjadi seorang direktur perusahaan besar sekarang, jauh berbeda dgn aku kini yg msih kuliah semester terakhir dan mesti banting tulang bekerja dari pagi hingga sore demi bisa melanjutkan kuliah.



saat Bram muncul di kantor aku tak berani menegurnya, dan aku hanya menundukkan kepala kala dia tersenyum melewati meja kerjaku, dan dia tak melihatku sama sekali saat itu, "ah mungkin ia sudah lupa pada sahabat kecil'y ini.

sudahlah.......bukan masalah besar bagiku,dan aku kembali bekerja seperti biasa.



seminggu kemudian, mbak Yuli atasanku memanggilku keruangannya, dan mengatakan jika desain Syal yang ku buat di sukai oleh pak Bram, dan aku di minta untuk menghadap beliau segera.

dan aku kaget tak menyangka ternyata desain asal''an ku itu terpilih dlm seleksi desain syal di perusahaanku.

padahal aku hanya iseng mengikut sertakan coretan ku di atas kertas atas saran Novi sahabatku.



Dengan dada deg2an akhirnya ku ketuk pintu ruangan Bram & terdengar sahutan mempersilahkan aku masuk dari dalam dan kulihat dia duduk membelakangiku du kursi singgasananya.

"Selamat Siang Pak Bram, anda memanggil saya ?

"Ya, silahkan duduk, apakah ini desain anda meidia wijaya salim ??? katanya menyebut nama lengkapku.

"Iya, Pak itu hasil coretan saya, kataku kemudian.

"Bagus, aku suka desain mu...dan bisa kau buatkan lagi aku beberapa desain yg lebih menarik dari ini Meydia ??

Katanya tampa membalikkan badannya dari kursi'y duduk.

"Iya, akan ku coba buat yang lebih bagus pak...

"Baik (kayanya kemudian)

"Dan jika sudah tidak ada lagi saya mohon permisi pak.

"Tunggu...."ia kemudian membalikkan posisi duduk'y menatap lurus padaku, aku tertegun sejenak lalu menunduk tak berani melihat'y lama...apa dia masih mengenali aku.
"Meydia...masih ingat aku ???
kulihat dia sebentar, "Bapak kenal saya ??" tanyaku menyelidik.
"Ya,,,kamu adalah sahabat kecilku dulu,kamu lupakan aku Meydia..??
"Ngga Pak Bram, saya masih mengingat anda, hanya saja sekarang anda sudah jadi atasan saya dikantor.
"Ahahaha jgn terlalu formil begitu Meydia,,,nanti pulang jam kantor kita pulang sama-sama aku ingin ngobrol sama kamu, udh lama kan kita ngga ketemu.
"Maaf Pak,apa bapak tidak malu pulang bareng karyawan rendahan seperti saya ?? " kataku merendah.
"Meydia...kamu ini masih seperti dulu, suka merendah,sdhlah, nnti ku tunggu pulang jam kantor.
"Baik Pak, saya permisi dulu" kataku berlalu.

***
Jam pulang kantor hampir tiba,aku bersiap-siap mengemasi semua kerjaanku, dan ku raih tas ku dan segera menuju pintu,dan disana aku berpapasan dgn Bram,
"Sudah mau pulang Meydia ???
"Iya Pak, saya sudah mau pulang..." Kataku.
"Oke, kamu tunggu sebentar, aku mau ambil kunci mobil dulu di ruanganku..
"Maaf Pak, saya ngga bisa ikut bareng anda, karena saya mesti langsung ke kampus.
"Oke, tunggu sebentar,aku antar kau sampai ke kampus mu.
tanpa menunggu jawabanku Bram langsung berlalu,dan aku menunggunya di lobby kantor.

Tak lama kemudian mobil yg di bawa bram meluncur,dgn membawa serta aku dan dia di dalamnya.
Tak terbayang sebelumnya bisa ketemu Bram lagi dan duduk semobil dengannya.
Bram sekarang banyak berubah, dia sekarang tampak lebih gagah dan dewasa dgn umur'y yamg kini 27 tahun.
Bram lebih tua 2 tahun dariku. dan aku masih ingat dgn jelas tautan umur kami.

"Kamu masih kuliah Meydia ..??
"Iya, Pak Bram...
"Ayolah Mey,,,jgn panggil aku Pak gitu dong, santai aja, aku masih Bram yg dulu kok.
Bram nampaknya memang tak berubah, masih seramah dan tak sombong seperti dulu,walau pun dia anak orang berada.
dekat dengan Bram, jadi ingat masa anak-anak dulu...kami berteman cukup akrap waktu itu.
masih ingat juga dulu Bram sempat mencium aku wktu dia ngucapin selamat ulang tahun untukku.
Bram...semoga kau masih Bram sahabatku yg dulu...(batinku)

"Mey...kamu kok diam.
"Di ujung jalan sana belok kiri Bram, gedung kuliahku pas di belokan jalan itu" kataku pada'y & Bram hanya tertawa melihat sikapku yg salah tingkah, aku jg heran kok aku bisa jadi serba salah gini yaa di dekat Bram.
Akhir'y aku turun didepan kampusku yg terlihat sepi, maklumlah aku kuliah'y sore jd ngga seramai pagi hari...
"Makasih ya Bram, sampai jumpa...
"Ya...hati'' Meydia, kamu pulang jam berapa ?
"kira2 jam 9 kataku,
"Oke, kamu hati'' yaa...
"Bye.... kataku sambil berlalu tanpa menjawab Bram.

***

Sampai dirumah ku lihat Sonia Dan Andrew sudah tertidur pulas dikamar'y.
setiap hari begitu jika aku pulang kerumah, mereka selalu sudah tertidur lelap, dan tante Nani menungguku pulang sambil Nonton Tv diruang tengah.
Tante Nani adalah Kakak dari Mama, yg tak menikah dan memiliki anak, dan ia tinggal bersebelahan dgn rumahku.

"Malam tante, tante belum tidur ??
"Blum Mey, klu kamu blum pulang bagai nama tante bisa tidur" katanya melihatku yg baru masuk dari pintu.
"Hari ini kok agak malam pulang'y Mey ??
"Iya, tadi mampir ke market dulu beli jajanan untuk Sonia & Andrew, kataku.
"Mereka udh makan tante ??
"Sudah, kata tante yg berlalu hendak pulang ke rumah'y di sebelah.
"Tante balik Mey...tutup pintunya rapat-rapat"

***

Esokan hari aku bekerja seperti biasa, siang'y Dona menelponku dan mengajakku ketemuan dan sekalian makan siang.
karena sdh lama kami tak bertemu sebagai sahabat baik, aku menyanggupinya.
Dan aku bergegas berkemas dan dgn buru-buru keluar kantor utk menemi Dona,di parkiran aku bertemu dengan Bram yg jg akn pergi makan siang , dan dia menawariku utk ikut bersamanya, nmn krn sudah janji dgn Dona, dengan halus ku tolak ajakannya padaku.
tapi tak ku sangka ternyata ia juga bersedia ikut mkn siang bareng aku dan Dona.

Sampai direstoran, kulihat dona sudah menungguku sedari tadi.
Dan padanya ku kenalkan Bram sebagai atasanku di kantor, dan dgn alasan kebetulan bertemu & mampir makan siang di sini.
ku lihat Bram menatap lama pada Dona saat bersalaman, dan aku rasa dia menyukai Dona.
akhirnya acara makan siang pun selesai,sedangkan aku balik lagi ke kantor tanpa Bram, yg ku tinggalkan mereka di restoran krn aku buru-buru sebab tugas kerjaku yg menumpuk. dan aku tak tahu lagi selanjutnya tentang mereka di sana.

Dan sejak saat itu ku dengar dari Dona, Bram sering menelpon dia dan mengajaknya keluar, sekedar makan ataupun nonton. ternyata benar firasatku Bram menyukai Dona.
namun dari Dona bilang Bram belum menyatakan Cintanya...dan aku heran Dona ngga begitu semangat bercerita tentang Bram, ngga seperti dulu-dulu kala dia dekat dengan seseorang. dan aku lebih sering mendengar Dona menceritakan tentang David cowok tajir anak rekan bisnis papa'y dan juga teman satu kampus namun beda jurusan.
kata Dona sich David calon dokter.
tapi aku kurang menyukai David, karena saat di kenalkan oleh Dona padaku kulihat Davit sering melirik genit padaku.
ah,,,mudah-mudahan saja Dona ngga salah memilik dia.

***

Hari itu, tiba saatnya aku menyerahkan hasil desain Syal yg di minta Bram padaku.
dan langsung saja ku antarkan ke ruang kerjanya.
saat ku ketok pintu dam masuk ku lihat Bram sedang sibuk dengan komputer'y, tanpa banyak basa basi ku letakkan saja sketsaku di atas meja, dan dgn segera aku kabur dari ruangannya.

"Tunggu Mey....ada yg ingin ku tanyakan padamu.
"Iya Pak Bram...???" Kataku kemudian.
"Meydia, kau kan bersahabat baik dengan Dona"
"Iya, Pak .."
"Tolong katakan padaku apakah Dona sudah mempunyai pacar atau belum ?
"Eh,,,maaf pak, klu soal itu kenapa tidak  bapak tanyakan langsung pada yg bersangkutan."
"Makanya aku ngga sempat bertanya padanya, dan oleh sebab itu sekarang ku tanyakan hal itu padamu, karena ku pikir kalian bersahabat baik, pasti tahu masing'' sudah punya pacar atau belum.
" Maaf Pak Bram, terus terang saya ngga tahu masalah pribadi Dona, dan dia jg tak pernah bercerita pada saya selama ini sudah mempunya pacar atau belum, lagian saya dan Dona sudah jarang sekali bertemu sejak kami lulus dari sekolah.
karena waktu saya yang di habiskan utk bekerja dan kuliah setiap hari.
"Owh....begitu,Baiklah Meydia kau boleh lanjutkan kerjaanmu.
"Permisi pak Bram " Kataku segera berlalu dari ruangannya.

***
Bramantio, apa maksud pertanyaanmu, ternyata benar kau menyukai Dona.
Dan begitu jg saat ku dapati kabar Dona sakit, langsung ku kabari Bram,agar ia bisa menjenguk Dona, dan berharap bisa lebih dekat lagi dengannya.
Bram tampak antusias ingin menjenguk Dona di rumahnya, dan kayanya sebagai sahabat baik Dona aku harus menemaninya menjenguk Dona yg sedang sakit.

Tiba di rumah Dona aku dan Bram di sambut hangat oleh tante Leis mama'y Dona.
Dan aku juga Cukup dekat dengan tante Leis dulu ketika aku dan Dona masih sekolah dan aku sering main kesana kala waktu senggang.
tante Leis ngga berubah masih tampak cantik dengan usianya yang menginjak 40 thn.

"Tante, katanya Dona sakit ya tan...sakit apa sich dia tan, kok mendadak gini..
"Ah,,,sakit biasa aja kok Mey, cuma demam mungki kemaren kehujanan abis pulang dari kampus tiba-tiba badannya panas.
tapi udh mendingan kok, udh di rawat sama dokter ...
"Oh ya, tante, kenalin ini Bram tante, teman ku dan juga Dona.
Bram juga kesini mau menjenguk Dona Tante,,,boleh liat Dona di kamar'y tan ???
kataku meminta ijin tante Leis utk melihat keadaan Dona...
"Oh...silahkan, silahkan...Dona sedang istirahat di kamar'y...Mey naik aja ajak Bram sekalian...tante tinggal dulu sebentar kedapur.
Kata tante Lies mempersilahkan aku dan Bram naik ke atas menjenguk keadaan Dona.

Perlahan ku ketuk dan ku buka pelan-pelan pintu kamar Dona,dan ku lihat Dona sedang asik telefonan dengan seseorang.
dan aku tahu, siapa yg di ujung tlp sana, pasti David...ternyata benar,Dona mengisaratkan padaku kalau yg sedang menelepon itu adalah David.
tak lama Dona menutup tlp'y dan duduk di tepi ranjang berbincang'' dgnku dan Bram.

tak lama kemudian, ku tahu karena Bram ingin berbicara dgn Dona, akhir'y ku beri kesematan pada'y dan aku pura'' ingin mengambil minuman di bawah dan membiarkan Dona berdua dengan Bram.
cukup lama ku biarkan mereka ngobrol, hingga terdengar suara Bell depan berbunyi yang ternyata adalah Davit yg datang.
tak kulihat lagi tante Leis di rumah, dan aku lihat sepertinya David sudah tak canggung2 lagi dirumah ini,terbukti dia langsung saja naik keatas menuju kamar Dona tanpa harus meminta ijin pada tante Leis mama'y Dona.

Melihat itu aku lekas2 naik dan membawakan minuman utk Bram, pastinya dengan kehadiran David Bram akan merasa terganggu.
Ternyata benar saja, dari sorot mata David nampak ketidak sukaannya pada Bram.
Dan aku dapat merasakan bagai mana perasaan Bram kala melihat kemesraan yg di tunjukan David pada Dona.
Begitu juga dengan Dona kulihat...dan Bram terlihat mengajakku segera berpamitan pada Dona serta David yg tak menggubris sapaan Bram kala berpamitan.

"Pacarnya Dona ya Mey..." Tanya Bram padaku.
"Setahuku mereke hanya sahabt Bram,,," Kataku menutupi yg ada, karena ku tahu Bram kecewa saat itu melihat kedekatan Dona dan David, dan malam itu ku coba beranikan diri menanyakan perasaan Bram terhadap Dona.
dan Bram bilang jika dia menyimpan rasa simpati pada Dona sahabatku.
dan aku juga menyemangati Bram kala itu, bahwa selama janur belum melengkung Dona masih dapat di raih'y.
dan tampak Bram sedikit lega malam itu.

****
Enam bulan sejak kejadian itu,aku tahu Bram mulai gencar mendekati Dona,dan aku sebagai comblang'y
dan dari situ pula antara aku dan Bram cukup dekat, tak seperti atasan dan bawahannya dikantor.
Bram sering mengantarkan ku pulang, mengantarkan aku mencari bahan skripsiku kala ia punya waktu luang.
dan tanpa malu-malu Bram juga sering bertandang kerumah mungilku bercanda dengan Sonia dan Andrew.
kadang saat melihat candaan Bram pada adik-adikku sempat terlintas seandainya Bram tak memilih Dona sebagai kekasihnya.....

Ah, tapi segera mungkin aku membuang jauh'' perasaan itu, Bram milik Dona sahabatku...
dan pernah suatu waktu Bram sempat berkata padaku tentang niatnya melamar Dona. dan ia meminta pendapatku.

'' Tentu saja aku mendukung mu Bram...kebahagian mu adalah kebahagian sahabatku Dona..dan pastinya kebahagiaanku juga...kataku waktu itu, walau tak bisa ku pungkiri ada rasa aneh menyelubungi hatiku, sedih jika membayangkan Bram bersana Dona bersama...
namun aku selalu membuang jauh-jauh perasaan yg ku anggap cuma rasa sayang persahabatan yg begitu dekat terhadap Bram.

Malam ini aku sedang di rumah mengajari sonia dan andrew mengerjakan PR, saat terdengar ponselku berdering, yg ternyata adalah Bram yang menelponku.
dan Bram berkata sebentar lagi akan tiba dirumah dan mengajakku keluar.
ada sesuatu yg penting yg ingin di sampaikannya padaku.
dan aku tak dapat menolak ajakannya, dan segera saja aku keluar saat mendengar deru mobilnya di depan rumah.
ku tinggalkan adik2ku pada tante Neni, dan dgn ijinnya aku pergi bersama Bram.

"Ada apa Bram, malam2 begini mengajakku keluar...kamu sedang ada masalah ? " Tanyaku, dan dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku.
aku jadi bingung dan ku biarkan saja dia diam dengan pikirannya sendiri. hingga ia menghentikan mobilnya si tepi bukit tempat favorite ku menyendiri jika aku sedang sedih.
dan Bram tahu tempat itu, karena ia sering menjumpaiku di sana jika ia mencariku...
dan tempat ini merupakan tempat yg paling sering ku kunjungi jika hatiku sedih krn ada perasaan aneh merasuk kala mengingat Bram bersama Dona.
tepat diatas gundukan bukit, di bawah sebuah pohon yang rindang dan dgn sebuah kursi di sampingnya...kulihat Bram menghentakkan duduknya di sana seperti kala aku dlm sedih.

aku diamkan saja dia dgn pikirannya, dan aku tak banyak bertanya lagi pada Bram.
Biarkan dia sendiri yg bercerita, (batinku)
benar saja, tak berapa lama Bram membuka pembicaraan, dan dia katakan.

"Dona menghianati ku Mey....."
"Aku kaget mendengar ucapannya..." dan aku menatapnya dalam-dalam.
"Ngga mungkin Bram, kau tahu dari mana" kataku sejurus kemudian.
"Kulihat dia Berciuman dengan David, begitu mesra...mereka bercumbu di depan mataku Mey.."
"Lalu...Dona tahu kau melihat mereka ??" Tanyaku lagi.
"Ya, kuhampiri mereka...dan ku katakan pada Dona, piliha aku atau David...dan jawaban Dona menyakitkan sekali bagiku.
'' Dia memilih David,,,Mey."

Baru kali ini kulihat  wajah Bram menggeram marah, mata'y berkaca-kaca menahan amarah.
ku tahu betapa dia begitu mencintai Dona...aku tahu betapa selama ini sudah begitu banyak yg telah ia korbankan untuk Dona.
dan aku tak pernah menyangka Dona setega itu pada Bram.
dan seharusnya sejak dari awal aku tak mencomblangi Bram, karena dari dulu ku tahu Dona dan David sering main hati di belakang Bram, kasihan sekali Bram,,,dia pasti terpukul sekali dgn kejadian ini.
dan aku hanya bisa menghiburnya kala itu.

"Seharus'y aku tahu, dan sedari awal tak memaksakan mencintai Dona.
karena saat bersamaku dia sering curi-curi kesempatam menerima tlp dari orang lain. seharusnya aku sudah curiga dari dulu.
Cinta dan kecantikannya serta kelembutan tutur katanya telah membutakan mata hatiku.
sehingga mutiara di depan mata tak ku hiraukan....

Degggggggg,,,jantungku berdetak kencang saat mendengar kata'2 Bram yg terakhir.

"Aku tak mengerti maksud kata-kata mu yg terakhir Bram...." kataku mencoba menyelidk.

"Ya,,,kau mutiara itu Mey.
"Selama ini aku berusaha menutup mata hatiku...tentang keberadaanmu di hatiku.
"Entah mengapa setiap ada masalah mendera yg ingin ku cari adalah kamu bukannya Dona.
dan selalu saja kau dapat menenangkan ku.
Kala sepi yg terbersit di benakku hanya kamu,canda tawamu buat aku tentram, begitu jg dgn kebersamaan dgn sonia dan andrew...tak seperti saat bersama Dona.
bersamanya hanya ada keluhan,dan sifat manjanya serta tak kedewasaannya dlm menengahi masalah yg ada.

Bram bercerita banyak malam ini,,,dan dia mulai membahas tentang aku di matanya.
aku jadi serba salah dan ku katakan jika dia sedang kacau malam ini.
aku beranjak, mencoba menghindar dari tatapan aneh di matanya....dan berdiri di atas sebongkah batu yg biasa ku injak dan melintangkan kedua tanganku untuk berteriak sekuat-kuat'y untuk melegakan beban di hatiku.
namun kali ini tanganku tak ku bentangkan lebar-lebar, sebab udara malam itu kian dingin menusuk tulang.
dan dengan tangan yg terdekap di dada, ku dongakkan kepalaku menghirup udara sejuk malam itu  dalam-dalam meresapi kenyataan yang ada saat itu.

kulihat Bram mendekat, berdiri di sampingku, menatapku dari samping.Dia diam tak bergeming, begitu juga dengan aku...
dan akhirnya Bram bersuara....

"Meydia....apa yang kau pikirkan saat ini...??
"Apa yg kau rasakan Mey ?

Aku menoleh kearahnya, kulihat dia menghadap padaku, melihat aku lekat-lekat. wajahnya tak seemosi tadi lagi kulihat.
Ia mulai tenang....

Ku balas tatapannya, dan ku katakan " Jika aku sedih, aku akan berteriak lantang di sini ,melepaskan semua bebanku  agar angin membawanya pergi jauh.
sambil ku bentangkan tangan ku laksana ku sedang terbang melintasi awan....hingga semua bebanku hilang, dan aku akan kembali hinggap di antara ranting kehidupan baru yang akan ku mulai besok.

" Bram, jika hatimu kacau,,,berteriaklah disini, lepaskan bebanmu, hingga esok tiba kau akan merasakan kelepasan atas semua beban-bebanmu.

kulihat kau menghadapkan pandanganmu ke muka...menatap jauh ke depan, menjelajah di antara perbukitan nun jauh di sana, diantara pohon-pohon rimbun, diantara pucuk pucuk dedaunan.
kau menghirup udara dalam-dalam. menghembuskannya bersana teriakan lantang...

"Angin, bawa semua bebanku, bawa pergi semua kenangan pahitku...
beri aku secerca cahaya, agar aku dapat memulainya kembali bersama Dia.....(Bram melihatku, tangannya teracung lantang. menunjuk lekat-lekat kepadaku, aku tercengang, tak dapat berkata-kata, kemudian ku dengar suara Bram melemah.

"Meydia...mulai hari ini aku berjanji, akan selalu menemanimu melewati hari-hari.
"Dan ku mohon,bantu aku menata hidupku yang baru....

lidahku kelu, mataku tak dapat berkedip,seakan tak percaya dengan apa yg di katakan Bram barusan.

"Meydia....
"Bolehkah aku memelukmu ??

tanpa menunggu jawabanku, Bram mendekapku dari belakang, dan pelan ku dengar dia berbisik di balik tellingaku.


"Maukah kau memulai hidup baru bersamaku dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku pula Meydia..."

Aku diam,dan hanya anggukan pelan tanda aku menerima luapan kasih yang di berikan oleh Bram.
Ku pejamkan mataku, ku hirup udara malam itu dalam-dalam, dan ku hembuskan bersama berjuta rasa bahagia yg terukir.

Pada angin ku berbisik, " terima kasih tlah sampaikan rasa yg selama ini ku titipkan untuk dia.
"Kini, padamu angin, kini ku titipkan kembali sebait doa...agar dapat kau abadikan Cinta yang saat ini kudekap erat...
"Padamu angin...cinta ini ku labuhkan dalam ikrar setia...cinta yang nyata.

Tsn.
Co, December 16,2010