Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan


Seperti banyaknya kisah terabaikan tentang Indonesia Timur, kehidupan etnis Tionghoa di timur Indonesia pun jarang ditelusuri. Padahal, kehadiran dan interaksi etnis Tionghoa di wilayah ini sudah berlangsung sejak zaman perdagangan rempah-rempah. Sebuah penelitian dari negeri Paman Sam bahkan menyebut etnis Tionghoa di Papua cenderung berasimilasi jauh lebih baik dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

***
Orang Papua akrab dengan istilah “perancis” yang merupakan akronim dari Peranakan Cina Serui. Mereka termasuk dalam keluarga besar “Papua putih” atau “Papua rambut lurus”, generasi blasteran unik yang mewarisi perpaduan ciri genetika ras mongoloid dan ras melanesia. Generasi perancis sendiri tak canggung menyebut diri mereka “Ciko”, kependekan dari “Cina Komin” atau Cina Papua. Keunikan para “perancis” ini ternyata tidak terbatas hanya pada penampilan fisik mereka saja, tapi juga pada akulturasi budaya Tionghoa dengan budaya lokal Papua – sebuah kisah lain tentang kehidupan etnis Tionghoa yang tidak banyak terungkap.

* Berawal Dari Bumbu Dapur

Wilayah Papua mulai muncul di peta dunia sejak abad ketujuh. Para pedagang Sriwijaya sampai ke pulau ini melalui jalur perdagangan rempah-rempah seperti pala dan lada. Buku tahunan Tiongkok menyebut Raja Sriwijaya yang bernama Maharaja Sri Indrawarman telah mengirimkan utusannya ke Kaisar Tiongkok untuk mempersembahkan bulu-bulu burung dan seorang gadis sengk’i sebagai tanda persahabatan. Sengk’i atau Jangge adalah sebutan untuk ras negrito di Nusantara saat itu. Sumber tertulis pada zaman Dinasti Tang (618-906) sudah menyebut Miliku untuk kepulauan di wilayah Maluku. Namun potensi rempah-rempah baru muncul dalam catatan zaman Dinasti Ming (1368-1643). Dalam periode Kaisar Wan-Li (1573-1619), catatan Tiongkok menyebutkan perang antara Portugis dan Belanda yang berusaha merebut pulau-pulau ini, dan pada 1618 terdapat catatan yang menyarankan untuk mendekati Sultan Tidore sebagai penguasa yang paling berpengaruh di wilayah Papua.

Sumber tertulis di atas terdukung dengan ditemukannya jejak kapak neolitik dengan teknik penggurdian yang hanya dikembangkan di Tiongkok (Kebudayaan Yang Shao), tersebarnya perunggu dongson, manik-manik, gelang kaca, serta keramik di beberapa penjuru Papua yang disinyalir berumur hampir 2000 tahun yang lalu. Masa ini akhirnya dicatat para arkeolog sebagai masa permulaan perdagangan rempah dunia.

Selain mencari rempah sebagai bumbu dapur dan obat-obatan, para pedagang Tiongkok datang ke kepulauan Maluku dan Papua untuk mendapatkan teripang, mutiara, kerang, kulit kayu masoi, cendana, gaharu dan lain-lain. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan besi, perunggu, keramik, pisau dan kain.

Duarte Barbosa, seorang pelaut Portugis mencatat bahwa pada tahun 1381 perdagangan di Papua tidak hanya meliputi hasil bumi, tapi juga budak. Orang-orang Jawa mengirimkan 300 budak hitam sebagai upeti ke Tiongkok. Tahun berikutnya mereka mengirim lagi 100 budak laki-laki dan perempuan bersama dengan 75.000 peti lada dan delapan mutiara berukuran besar.

Hal lain yang menjadi daya tarik Papua di abad 17 dan 18 adalah perdangangan bulu-bulu burung. Umumnya yang paling dicari adalah burung kuning alias cendrawasih dan burung kasuari.

Bangsawan Eropa dan Amerika saat itu amat senang memakai topi yang berhias bulu burung-burung eksotis. Tren ini dilanggengkan oleh Putri Marie Antoinette yang kerap menjadi trend setter fesyen kaum elit saat itu. Tak hanya pakaian bangsawan, seragam militer kala itu pun menggunakan bulu burung sebagai hiasan. Pada tahun 1904-1908 terdata 155.000 burung cendrawasih terjual pada lelang di London saja, belum termasuk perdagangan di tempat dan tahun yang lain. Tak heran, spesies burung-burung ini menjadi sangat langka sekarang.

Pada 1828, Belanda secara resmi mengklaim Papua sebagai wilayah Hindia Belanda melalui perjanjian dengan Kesultanan Tidore. Namun menjelang akhir abad ke-18, pengaruh monopoli perdagangan rempah VOC menurun seiring kekalahan Belanda oleh Perancis di Eropa. Pedagang Tiongkok dan Bugis mengambil kesempatan ini untuk memperkuat pengaruhnya di wilayah kepala burung. Thomas Forrest, seorang Inggris yang tinggal di Dorei Bay (sekarang Manokwari) mengatakan bahwa Kesultanan Tidore dan Ternate memberikan izin khusus bagi pedagang Tiongkok ini untuk berlayar di perairan Papua. Mereka datang dengan perahu super kargo dari Batavia untuk mengambil hasil bumi yang akan diperdagangkan di Singapura.

Sebuah catatan menarik lainnya ditulis oleh Albert Wallace dalam buku hariannya yang bertanggal 8 Januari 1857. Wallace yang terkenal karena menciptakan garis yang membagi spesies flora dan fauna Indonesia dalam wilayah geografi Asia dan Australasia, menuliskan apa yang dialaminya di Dobo, Kepulauan Aru, yang terletak di selatan Papua, “Saya berani berkata bahwa dalam komunitas 500 penduduk yang tinggal di Kepulauan Aru, adalah mereka yang mempunyai ‘reputasi paling buruk’ dalam hal moral: pedagang Tionghoa, Bugis, Seram, peranakan budak Jawa-Papua. Populasi heterogen yang acuh, haus darah dan bermental pencuri ini anehnya hidup bersama dengan damai tanpa struktur pemerintahan. Tak ada polisi, tak ada pengadilan, tanpa pengacara; namun demikian mereka tidak saling memotong leher… sangat luar biasa! Saya melihat mereka amat santun. Saya bahkan bisa berjalan-jalan di hutan tanpa senjata. Saya tidur di pondok daun kelapa tanpa khawatir akan ada pencuri dan pembunuh seperti yang saya rasakan di bawah tekanan polisi metropolitan… Para pedagang ini, mengerti bahwa suasana damai diperlukan untuk mendukung perdagangan… Bandingkan dengan ratusan keputusan parlemen yang kita -orang Inggris- keluarkan setiap tahunnya untuk mencegah sesama kita saling membunuh!”

* Serui, Potret sebuah Kuali Peleburan

Ketertarikan saya terhadap kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia Timur makin besar ketika saya mendapatkan kesempatan menjejakkan kaki di Serui. Sebuah kota kecil yang terletak di Pulau Yapen, terletak di sebelah utara wilayah Papua Barat. Disinilah saya melihat Papua sebagai sebuah melting pot besar, amat jauh seperti yang digambarkan orang-orang di Jawa dan Jakarta: Papua yang hitam keriting, Papua yang identik dengan koteka dan Papua yang berarti kehidupan liar tak terjamah.

Kenyataannya pulau Papua sangat luas dan terlalu heterogen. Tercatat ada 255 suku asli dengan bahasa yang amat berbeda-beda. “Beda teluk saja, sudah sangat beda bahasa,” kata Ricky The yang menemani saya menyusuri wilayah Serui Laut – hanya berjarak 2 km dari kota Serui. Tempat kelahiran Menteri Perhubungan Fredy Numberi ini mempunyai bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa orang Serui. Kami melewati sebuah pasar yang bukan saja warna-warni dengan berbagai macam barang plastik, pakaian dengan model terbaru, makanan instan, sayur, buah dan ikan, tapi juga beraneka ragam warna dan bentuk orang-orangnya. Jauh dari kesan “hitam-keriting” dan terasing.

Suku-suku pendatang yang kini menetap di Papua, banyak berasal dari Buton, Bugis, Makasar, Pulau Kei dan Jawa, membuat laju perdagangan berdetak cepat. Sebuah paradoks yang membuka Papua terhadap modernitas, sekaligus memicu konflik horisontal.

Sebuah penelitian yang diterbitkan East-West Center -sebuah lembaga riset dan pendidikan yang bertujuan mendukung kestabilan dan perdamaian di kawasan Asia Pasifik- mencatat bahwa gesekan antara penduduk asli Papua dengan kaum pendatang dimulai saat gelombang migrasi besar-besaran terjadi di tahun 1970. Papua memang sudah makin sering disinggahi sejak zaman perdagangan rempah. Namun penemuan lokasi tambang di awal tahun 1930-an dan kebijakan transmigrasi telah membuat Papua menjadi magnet bagi para pendatang yang mengharap kehidupan baru. Sensus etnis pertama di Papua yang dilakukan pada tahun 2000 mencatat penduduk Papua terdiri dari 38% suku Jawa, 25% suku-suku dari Sulawesi, dan 7% dari Ambon. 30% sisanya campuran dari penduduk asli dan suku-suku minoritas lainnya, termasuk suku Tionghoa yang walaupun kecil jumlahnya, mempunyai pengaruh signifikan selama berabad-abad sebagai middleman minority (minoritas perantara) antara jaringan perdagangan eksternal dengan penduduk asli. Posisi ini masih terjaga sampai saat ini, dimana etnis Tionghoa di Papua umumnya menjadi distributor dan mempunyai toko dan kapal yang membawa barang dari Jawa dan Makasar.

Di tahun 1980-an tokoh-tokoh adat Papua menaruh perhatian serius pada pendatang yang mereka juluki BBM (Buton-Bugis-Makasar). Suku-suku yang berasal dari selatan Sulawesi ini di-stereotip-kan sebagai pedagang agresif yang tidak mau beradaptasi dengan budaya lokal dan kerap menipu dalam berdagang. Mirip dengan stereotip yang dilabelkan kepada etnis Tionghoa di wilayah lain Indonesia.

Gesekan ini pun berujung pada kerusuhan dan pembakaran pasar. Sebut saja peristiwa Abepura 1996, Entrop 1999-2000 dan Sentani di tahun 2000. Pada peristiwa di bulan Oktober 2000, dipicu oleh kemarahan penduduk asli kepada tentara, mereka melampiaskan kemarahan kepada para pendatang asal Sulawesi ini. Akibatnya 30 orang meninggal dan ratusan pendatang mengungsi dari Wamena. Menariknya, Papua tidak pernah mempunyai sejarah kerusuhan anti-Tionghoa.

Fakta-fakta ini melompat-lompat dalam benak saya sepanjang perjalanan. Mengapa terjadi perbedaan pola hubungan antara etnis Tionghoa di Papua dengan etnis Tionghoa di wilayah lain dimana telah menoreh rentetan kerusuhan anti-Tionghoa.

“Wah saya sendiri tidak pernah berpikir sejauh itu,” ungkap Ricky ketika saya mencoba melemparkan fakta itu. “Masyarakat Papua dan etnis Tionghoa di sini sudah seperti saudara. Itu sudah.”

* Dari Satu Tumbuh Seribu

Hari itu, di bawah panasnya mentari bulan September, Ricky membawa saya menemui keluarga besar Toroa, sebuah keluarga generasi “perancis” terbanyak di kota Serui. Bermarga Tan, keluarga ini mencapai 500 KK dengan anggota yang tersebar di Serui, Biak, Jayapura, Yobi, Sorong dan Raja Ampat. Cucu-cicit mereka juga banyak yang merantau di Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri. Selain Tan, marga lain yang terbanyak di pulau adalah The, Oei, Soe, Yo, Sie, Goan, Thung, Chung, Cheng, Chi dan Bong.

Ricky adalah generasi ketiga “perancis” dari Keluarga Toroa. Tubuhnya gempal dibalut kulit coklat merata. Rambutnya ikal dan matanya sipit. Ia tidak tampak Tionghoa, tapi juga tidak seperti orang Papua. Ricky bermarga The, karena ikut marga ayahnya The Tian Ho, pedagang Tionghoa asal Sangir Talaud, yang tinggal di sebuah pulau wilayah Ansus. The Tian Ho menikah dengan perempuan keluarga Toroa.

Setiap minggu, keluarga yang sudah berlipat-ganda menjadi enam generasi ini berkumpul untuk mengadakan kebaktian keluarga. Mereka semua beragama Kristen Protestan. Hal ini tidak mengherankan karena faktor pengaruh sejarah misionaris Kristen yang mendominasi wilayah utara pulau Papua, sementara misionaris Katholik memusatkan kegiatannya di selatan Papua.

Kebaktian keluarga dipimpin oleh Frans Tan, seorang pendeta yang juga aktif di pemerintahan. Ia pernah menjadi Sekretaris Wilayah Daerah Wamena, dan pejabat Bupati sementara di Tolikara dan Biak. Frans juga menjadi Ketua Perkumpulan Keluarga Besar Toroa. Awalnya perkumpulan ini dibuat supaya mereka bisa mendata silsilah keluarga untuk mencegah baku kawin di antara cucu-cicit mereka. Belakangan, mereka ingin membuat organisasi yang lebih resmi dengan AD/ART dan berpayung hukum. “Supaya diakui,” kata Frans.

Menurut Frans, Toroa adalah nama yang diberikan kakek mereka untuk sebuah pulau di wilayah Ambai. Artinya “di sini kami berdiri untuk maju”. Di pulau inilah, Tan Kai Tjok, leluhur dari mereka semua, datang dari provinsi Fujian di Tiongkok untuk mencari hasil bumi. Ia datang berdua dengan keponakan laki-lakinya, Tan Siu Liu.

Kedatangan etnis Tionghoa di Papua memang dipicu oleh perdagangan hasil bumi dan burung kuning. Mereka datang seorang diri atau dalam kelompok-kelompok kecil. Ada juga yang bolak-balik datang dan pergi dengan kapal-kapal laut. Agak berbeda dengan di Batavia atau bahkan wilayah tetangga Papua Nugini yang dikuasai Inggris dan Jerman di mana sempat merasakan gelombang masal migrasi etnis Tionghoa sebagai pekerja pabrik dan tambang.

Tak semua pedagang Tionghoa yang berlabuh di bumi cendrawasih beruntung. Banyak juga yang menjadi tawanan penduduk asli, dibunuh, diterkam binatang buas, atau meninggal karena malaria. Beragamnya suku asli di Papua dengan karakter yang berbeda-beda juga berpengaruh pada keberadaan etnis Tionghoa saat ini. “Banyaknya etnis Tionghoa di Pulau Yapen dan pesisir Papua adalah karena suku-suku yang tinggal di pesisir cenderung lebih terbuka pada orang asing,” jelas Frans. Faktor alam Papua yang sangat menantang juga membuat kehidupan pesisir jauh lebih bergairah daripada di pedalaman.

Kondisi ini membuat para perantau Tionghoa yang bertekad tetap mencari peruntungan di tanah Papua harus melakukan ekstra usaha. Mereka belajar bahasa dan adat setempat, memperkenalkan teknologi baru, sampai memikat suku-suku asli melalui perka¬winan. Termasuk Tan Kai Tjok.

Setelah meminang Moibin Mabonai, anak salah seorang tetua adat Desa Manawi bermarga Mabonai yang cukup berpengaruh, Kai Tjok memboyong Moibin ke pulau Toroa yang masih tak berpenghuni. Di pulau kecil berjarak sekitar satu kilometer dari pantai itu, Kai Tjok mendirikan toko yang menjual macam-macam barang dengan cara barter.

Selain memberi nama Mandarin, ia juga memberi nama anak-anak mereka dengan nama marga istrinya. Misalnya, Tan Kui Hoa, salah satu anaknya yang masih hidup sampai saat ini, punya nama ‘lokal’ Yemima Mabonai. Hal ini untuk membuat keturunan mereka masih diakui dan memiliki hak tanah adat atas nama Mabonai, karena suku Papua mengakui anak-anak perempuan sebagai ahli waris. Belakangan, saat keturunan menjadi makin banyak, generasi ketiga memakai nama keluarga Tan Bonai, perpaduan antara marga Tan dan marga Mabonai.

Penggunaan nama marga ibu dilakukan oleh semua anak-anak keturunan Tionghoa di Serui dan Biak. Misalnya keluarga Thung yang memakai nama Raweyai dan keluarga Chung yang memakai marga Erari. Marga Papua lain yang dipakai adalah Imbiri, Wairara, Abba, Sengkui, Ayorbaba, dan lain-lain. Biasanya generasi kedua dan ketiga masih mempunyai nama Mandarin selain nama lokal. Namun kini, cucu-cicit mereka sudah memakai nama lokal atau nama barat diimbuh marga ibu.

Tetua masyarakat Ambai sampai saat ini masih mengingat sepak terjang Kai Tjok di pulau Toroa. Ketika saya menyebut nama nenek Moibin, mereka langsung ingat dengan Kai Tjok. Mereka menyebutnya tete kepala kosong, karena penampilannya yang khas penduduk Tiongkok Dinasti Qing: botak dengan kuncir panjang dan celana panjang kain yang diikat tali. Tete adalah panggilan masyarakat Papua bagi kakek.

Kai Tjok memilih tinggal di pulau karena lebih mudah baginya untuk berdagang di laut. Kapal besar tidak bisa masuk sampai ke darat. Masyarakat datang ke pulau Toroa dengan sampan membawa berbagai macam hasil laut dan hutan: bulu burung, bia (kerang), tripang, kayu masoi, damar, dan lain sebagainya. Di toko itu Kai Tjok menukarnya dengan keramik, piring, dan guci dari Tiongkok, juga kain-kain, sembako dan pisau yang datang dengan kapal besar dari Singapura.

Kai Tjok juga mengajarkan teknologi menanam padi, menumbuhkan dan mengasinkan kol, membuat mie, membuat garam, kecap, dan pengobatan tradisional Tiongkok kepada istri dan sembilan anaknya. Ia bahkan mengajarkan kungfu pada anak laki-laki. Mereka semua hidup mandiri dan berkecukupan dengan mengusahakan kebutuhan keluarga sendiri. Semua anak harus bekerja dengan disiplin. Kai Tjok juga mengajarkan merangkai kerang menjadi rompi pada penduduk Ambai. “Inilah masa dimana kampung Ambai mulai mengenal orang-orang dan budaya asing,” kata Frans.

Transfer teknologi seperti menanam padi dan merangkai manik-manik juga terjadi di Ansus. Sebelum Jepang menghancurkan wilayah ini, penduduk Ansus mempunyai cukup banyak lumbung padi.

Keluarga Toroa masih mewarisi beberapa ajaran Kai Tjok. Seusai kebaktian keluarga, saya disuguhi hidangan bernama Mie Ke. Rasanya memang seperti mie, karena terbuat dari terigu dan telur. Tapi penampakannya tidak sama dengan mie yang kita kenal. Mie-nya lebih mirip dengan potongan otak-otak. “Adonan terigunya dicubit kecil-kecil. Memang caranya begitu. Mungkin karena dulu tidak ada gilingan mie,” kata Linda Tanbonai yang menjadi juru masak. Mie ini dicampur de¬ngan sayur dan kari ikan, lalu disantap dengan sagu. Hampir semua penduduk Serui dan Ambai tahu resep hidangan Mie Ke.

Uniknya, sehabis makan mie, seluruh keluarga menikmati makan pinang yang dikunyah bersama kapur dan buah sirih, membuat bibir dan gigi mereka merah oranye. Cara mereka makan cukup lahap dan terlihat sangat menikmati. Ini adalah pemandangan umum yang akan kita jumpai di seluruh daratan Papua. Para penduduk asli Papua sangat menikmati makan pinang sampai-sampai banyak himbauan “dilarang meludah pinang di tempat umum”.

Ilmu lain yang masih diwarisi keluarga adalah ilmu mengobati dengan tulisan Mandarin. Engkong Kai Tjok memang kerap bertindak sebagai tabib bagi orang-orang kampung dengan ‘ilmu’ yang dimilikinya. Konon, hanya keturunan ‘berbakat’ yang bisa mewarisi talenta ini, termasuk Ricky. Walaupun sudah beragama Kristen, keturunan Toroa percaya “ilmu” ini sangat manjur untuk mengobati sakit demam, pendarahan dan saat tertelak tulang ikan. Caranya, segelas air disiapkan untuk diminum, ‘mantra’ lalu disebutkan sambil menuliskan huruf Mandarin di atas air dalam gelas itu. Tak seorang pun keturunan Kai Tjok bisa berbahasa dan membaca huruf Mandarin itu. Namun Ricky dengan piawai menuliskannya sambil menyebut kata-kata Ci Tiu En Bau Sen Si Go Bi Yu So Se Ai. “Tapi saya tidak tahu artinya apa, yang penting manjur!” Ia tergelak.

* Para Perintis di Selatan

Di tepi pantai sebuah teluk besar yang tenang, berderet bangunan toko berhadap-hadapan sepanjang satu kilometer. Tersanggah dengan tiang-tiang beton beratapkan seng, halaman belakang bangunan langsung terhubung dengan laut. Dari pantai terlihat jajaran kapal parkir di tepi tiap rumah. Menjelang sore, kawasan ini mendadak ramai, penuh dengan pedagang asongan, penjual makanan dan pengunjung yang menghabiskan malam. Inilah “china town” kota Kaimana, terletak di wilayah kota tua Kabupaten Kaimana, Papua.

Di tempat inilah, Ang Kim Hie (78) lahir dan menjadi tua. Ia adalah salah satu dari generasi kedua etnis Tionghoa yang menetap di pesisir selatan Papua. Ayahnya datang dari Fujian untuk mencari burung cendrawasih, kulit buaya dan membuat minyak lawang. “Dulu tempat ini masih hutan, tidak ada kota atau penduduknya. Ayah dan teman-temannya datang lalu membangun kota,” tutur nenek berkulit putih ini sambil menerawang. Kota dibangun untuk menjadi sentra perdagangan atas hasil hutan yang dikumpulkan dari penduduk asli di pedalaman untuk dibawa dengan kapal-kapal.

Di wilayah pesisir selatan Papua, para pedagang Tionghoa ini menjadi perintis yang membuka jalur komunikasi, perdagangan dan peradaban. Drabbe, ilmuwan Inggris yang menetap di Mimika pada 1935 mengumpulkan data dari suku Kamoro melalui amoko-kwere, penterjemah dan penghubung suku Kamoro terhadap dunia luar. Mereka mengatakan bahwa para pedagang Tionghoa adalah orang asing pertama yang mereka lihat, sepuluh tahun lebih awal dari orang-orang Eropa. Bahkan setelah pemerintahan Belanda mengukuhkan kantor administrasi di Mimika, hubungan antara Belanda dan suku Kamoro dilakukan melalui perantara Tionghoa.

Sebuah legenda juga dikisahkan oleh suku Kamoro. “Pada masa Nati Atana (periode waktu yang dipakai suku Kamoro sebelum 1920), Atokoaripiti dari Amarapia suatu hari pergi memancing di pantai. Ia melihat sebuah kapal mendekat. Ternyata mereka adalah pedagang Tionghoa dari Kaimana. Orang Tionghoa itu berlabuh dan menggelar berbagai macam barang, seperti kain merah, kapak, golok, pisau, tembakau dan buah pinang. Dengan bahasa isyarat orang Tionghoa itu menunjukkan bahwa kami bisa memiliki semua barang itu bila kami mengumpulkan damar, kayu kuning, kulit masoi, dan sagu. Hampir setiap bulan orang Tionghoa ini datang untuk mengumpulkan hasil hutan. Ia bahkan membuat pondok. Sejak saat itu, tiga warga suku dari pedalaman pindah dan tinggal di pantai, lalu beranak-cucu menjadi orang Amaparia sampai saat ini.” Suku Kamoro kemudian menyebut orang Tionghoa “tena-we” (berasal dari kata tina, sina atau cina) dan menyebut kapal mereka “tena-ku”.

Drabbe juga mencatat bahwa pada 1917, 16 etnis Tionghoa utusan Ong Kie Hong dari Kaimana pergi ke Mimika untuk mencari burung cendrawasih, burung kasuari, kulit buaya dan damar. Kedatangan mereka membuat komunitas suku pedalaman mulai berpindah ke pantai untuk mendapatkan akses lebih mudah akan barang-barang asing. Suku Kamoro amat tertarik dengan barang-barang besi terutama pisau dan golok yang sering mereka asosiasikan dengan kejantanan dan kepahlawanan.

Kegiatan barter dan perdagangan yang makin bergairah ini juga menguntungkan pemerintahan Belanda yang kemudian membentuk kantor administrasi di Mimika dan Kaimana. Vink, administrator Belanda untuk Papua Barat mulai mencatat penerimaan pajak di tahun 1924. Ia juga mencatat bahwa masyarakat Tionghoa datang dari teluk Aguni dan Kaimana untuk bekerja sebagai pengumpul damar. Mereka menerima uang muka dari pengepul besar seperti Ong Kie Hong. Secara administratif menurut aturan Belanda, peng¬usaha Tionghoa harus membayarkan pajak bagi pegawai mereka, yang diperhitungkan sebagai hutang si pegawai oleh bosnya. Pendatang baru yang menjejakkan kaki di Mimika secara otomatis berhutang pajak sebanyak sepuluh sampai lima belas guilder. Jumlah ini lumayan banyak, karena bila tidak cukup be¬kerja keras, mereka akan terjebak dalam lilitan hutang. Makanan, beras dan sagu mereka beli dari toko-toko milik sesama Tionghoa. Banyak yang datang dengan istri dan anak mereka dari Tiongkok. Perkawinan dengan perempuan lokal juga kerap terjadi.

“Ibu saya masih asli dari Tiongkok,” jelas Kim Hie seakan menjawab mengapa perawakannya sangat mongoloid. Setelah ayahnya sukses di Kaimana, ia pulang ke Tiongkok untuk menjemput istri. “Saya kemudian lahir dan besar di sini.” Kim Hie lalu menjelaskan bahwa ibunya punya kaki sangat kecil karena masih terkena tradisi lilit kaki yang awam terjadi pada masa Dinasti Qing. Orang setempat memanggilnya “mama kaki kecil”.

Punya dua istri atau lebih, dinilai wajar pada masa itu. Para pedagang Tionghoa ini bisa punya istri asli dari Tiongkok dan lalu memperistri perempuan lokal. “Kawin dengan penduduk setempat disebut kawin hasil,” kata John Ang, generasi kedua yang ayahnya punya keahlian fotografi. Sambil memperlihatkan foto-foto kota Kaimana saat pertama dibangun hasil jepretan ayahnya, ia menjelaskan bahwa melalui kawin hasil, para pendatang ini akan lebih diakui oleh penduduk setempat dan ikut berhak dalam pembagian tanah warisan keluarga.

Detak gairah perdagangan membuat kota Kaimana dan pesisir Mimika tumbuh menjadi sebuah komunitas yang plural. Melalui pajak yang diterima, Belanda kemudian membangun sekolah-sekolah di wilayah Kokonao dan Migiwia. Dengan bantuan gereja Katholik yang mendatangkan guru-guru suku Ambon dari pulau Kei, sekolah dengan nafas misi penyebaran agama Katholik menjamur di Atuka, Keakwa, Paripia dan Timuka. Keha¬diran sekolah kemudian menjadi faktor utama berpindahnya suku Kamoro dari pedalaman ke pesisir, di mana awalnya dipicu oleh barter barang de¬ngan orang Tionghoa. Suku Kamoro menikmati akses mudah akan barang-barang asing terutama pisau dan golok sebagai kompensasi atas tuntutan para guru yang mulai mensosialisasikan agama Katholik melalui sekolah. Suku-suku asli lain dan pendatang suku Nusantara pun tertarik dan mulai berdatang¬an ke wilayah ini. Sensus Belanda tahun 1920 mencatat ada lebih dari 30.000 orang hidup di pesisir selatan wilayah kepala burung, Fak-fak, Kaimana, sampai Mimika. Terdiri atas 42 orang Eropa, 375 orang Tionghoa, 91 orang Arab, 1448 orang macam-macam suku Nusantara dan 28.056 penduduk asli.

* Politik Dagang yang Membedakan

Toko kelontong Merpati di Serui selalu ramai dikunjungi pembeli. Selain lengkap, toko ini juga cukup besar. Yang membuatnya unik adalah meja dupa kecil terlihat di pojok toko, satu-satunya meja dupa yang bisa saya temukan di Serui. Keluarga Merpati -demikian masyarakat Serui menamakan mereka- termasuk sukses. Selain punya dua toko besar, mereka juga memiliki hotel dan restoran. Semua itu berawal dari jerih payah Chi Hoy Sam, perantau yang datang bersama isteri berkaki kecil dari Tiongkok.

Tak banyak yang ingat kegiatan Hoy Sam sebagai kapiten Tionghoa. Goan Piabon Mai, salah seorang sesepuh Tionghoa di Serui mengatakan bahwa Hoy Sam ditunjuk oleh komunitas Tionghoa untuk mengurus komunitas Tionghoa dan mewakili mereka di hadapan pemerintah Belanda. “Macam kapiten Tionghoa di Jawa… tapi kami yang mengusulkan, Belanda nurut saja,” katanya.

Piabon May juga tidak merasakan adanya perbedaan yang dibuat Belanda kepada etnis Tionghoa maupun etnis asli Papua seperti di Jawa. “Tidak ada kawasan khusus yang memisahkan kami dengan penduduk lokal. Dulu waktu zaman mencari damar justru kami tinggal di kampung-kampung.” Belanda juga tidak pernah menerapkan pajak khusus untuk perjalanan atau pajak konde. Di Batavia, sejak 1740 kebijakan passenstelsel diterapkan bagi etnis Tionghoa yang hendak berpergian ke luar distrik tempat tinggalnya. VOC juga menerapkan wijkenstelsel yang mengharuskan etnis Tionghoa tinggal di kawasan-kawasan khusus Tionghoa. Kebijakan inilah yang sering dituduh menciptakan segregasi sosial-politik-ekonomi etnis Tionghoa dengan suku lainnya.

Belanda tampaknya memang menerapkan sistem politik dagang yang berbeda di tanah Papua. Pada daerah jajahan lain, Belanda menguasai masyarakat melalui kepala adat atau kaum bangsawan. Di Papua, Belanda memakai guru sekolah dan pekerja gereja yang didatangkan dari Pulau Kei dan Manado untuk mengontrol masyarakat lokal.

Sejak pertama kali Belanda mendapat izin Kesultanan Tidore untuk menjejakkan kaki di Papua, mereka berharap dapat menemukan sumber kekayaan baru, seperti emas. Namun tak seorang pun penjelajah Belanda mampu memberikan laporan positif. Willem Jansz, tidak mampu menemukan keberadaan emas ketika pada 1605, selama satu tahun ia menyusuri pantai-pantai Papua de¬ngan hasil nihil. Ekpedisi kedua Belanda pada 1623 mengutus Jan Carstensz yang juga kecewa terhadap tanah dan penduduk asli Papua. Bukannya menemukan ‘harta karun’ yang mereka cari, ia malah bertemu dengan sekelompok suku pemakan manusia.

VOC yang tak punya minat sama sekali untuk membangun tanah ini kemudian membuat kesepakatan dengan Tidore sepanjang abad 17 dan 18 bahwa wilayah Papua tetap menjadi benteng Belanda untuk mencegah pengaruh Spanyol dan Inggris makin besar di timur Nusantara. Selain karena kebijakan pusat kolonial Belanda mengharuskan biaya serendah mungkin bagi penjelajahan Papua, para pejabat kolonial menganggap Papua sebagai wilayah yang tidak bisa diakses. Kontrol minimum dilakukan di beberapa wilayah pantai hanya untuk mengawasi saingan dagang dari negara Eropa lain. Tak seperti wilayah lain dimana Belanda berhasil mengeruk sebanyak mungkin hasil alam berkat politik devide et impera-nya, kehadiran orang Belanda di Papua cenderung bisa diterima baik oleh suku asli maupun suku pendatang lainnya dan tidak dianggap mengancam.

Usaha Belanda untuk membuka potensi pedalaman Papua terus-menerus gagal karena wabah penyakit dan sulitnya berkomunikasi dengan suku-suku asli. Baru di tahun 1930, ekspedisi Belanda baru berhasil menembus lembah Baliem. Namun sampai 1950, wilayah pedalaman tetap belum banyak terjamah. Laporan peme¬rintah Belanda pada 1951 bahkan masih mencatat Papua sebagai “tanah tandus, yang potensi pembangunannya terkendala oleh iklim tidak sehat, area-area buntu, dan kurangnya tenaga kerja”.

Berbeda dengan Belanda, para perintis Tionghoa di Papua melabuhkan cinta dan dunianya pada tanah yang ternyata kini sangat menjanjikan. Mereka hidup dan beranak-cicit, menciptakan generasi baru yang menyentuh perpaduan sosial dan budaya.**
[SIAPA YANG TIDAK TERSENTUH MENGKUTI KISAH ANAK HEBAT : SINAR]

Sinar seorang bocah belia berusia 6 tahun menampakkan bakti, cinta dan kasih sayangnya pada sang bunda, mengabaikan masa kecilnya pada saat anak-anak seusianya menghabiskan waktunya dengan bermain, sementara ia harus berada di samping bundanya yang sakit sejak dua tahun lalu.

Rumah Murni, nama ibu yang lumpuh ini terletak Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Walau tampak jauh dari keramaian kota, tapi rumah Murni juga tidak luput dari keramaian Pemilu lalu. Terbukti dengan banyaknya sticker partai dan caleg yang tertempel di dinding rumah kayu sangat sederhana itu. Tapi sepertinya para politisi dan kader partai itu abai dengan apa yang terjadi di tengah keluarga miskin ini. Para tetanggalah yang terkadang memberikan bantuan ala kadarnya untuk Murni dam putrinya, Sinar. Karena suami Murni sendiri merantau ke Malaysia.

Sinarlah yang membantu dan menemani ibunya selama ini. Mulai dari memindahkan atau menggeser tubuhnya, masak, makan, minum, mandi hingga buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta. Tayangan yang ditampilkan di televisi ini bahkan sanggup meruntuhkan air mata mereka yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub sekaligus melihat bocah usia 6 tahun yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, sambil mengusap mesra pipi ibunya.

Bocah kelas satu Sekolah Dasar ini bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya telah ia persembahkan bagi ibunya yang sakit parah. Walaupun Sinar memiliki lima orang kakak dan juga belum dewasa, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga.

Kisah Sinar, bocah belia usia 6 tahun ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berbakti kepada kedua orang tua. Walau di antara kita mungkin ada yang bertanya, apakah karena usianya yang masih sangat belia itu yang membuat Sinar mampu memahami arti berbakti kepada orang tua? Karena kita sendiri heran melihat perilaku seorang anak yang sudah dewasa justru tak sudi melayani ibunya yang renta dan tak mampu lagi berbuat apa-apa. Ia telah kehabisan cinta dan kasih sayang untuk ibunya.

Tapi begitulah Allah mengajarkan kepada kita tentang cinta kasih kepada orang tua melalui anak kecil ini. Ia telah letakkan dalam hatinya pada saat banyak manusia yang justru tak memilikinya. Semoga saja ibu Murni dapat segera sembuh dari penyakit yang menimpanya. Dan putrinya, Sinar, senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah berbakti kepada ibunya.

Kisah Sinar, bocah kelas satu Sekolah Dasar Tondo Pata, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, ternyata menggugah nurani banyak orang. Sejumlah dermawan memberikan berbagai bantuan seperti pakaian, beras, uang hingga kasur untuk tidur. Bahkan beberapa dermawan lainnya akan membantu biaya sekolah Sinar.

Cinta bocah bernama Sinar pada ibunya juga telah menginspirasi Charlie, vokalis band ST12. Sebagai bentuk simpati, Charlie menciptakan lagu berjudul Sinar Pahlawanku. Bukan hanya mencipta lagu, ST12 bahkan menginap di rumah anak perempuan berusia enam tahun itu.

Sontak rumah warga Dusun Tondo Pata, Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi ramai. Penduduk berdatangan untuk melihat band Ibu Kota. Sementara bagi ST12, mereka ingin melihat langsung ketabahan dan kegigihan Sinar merawat ibunya yang lumpuh.

Kebiasaan sehari-hari Sinar, yaitu memasak dan mencuci pakaian. Semua dilakukan seorang diri karena para saudaranya sudah tidak tinggal di rumah.

"Jangan menangis sayang, ini hanyalah cobaan Tuhan.
"Hadapi semua dengan senyuman,
"Dengan senyuman.......

ST12 berharap, bait lagu ciptaan untuk Sinar bisa menguatkan anak yang mencintai ibunya itu.
Sekarang mari kita merefleksi diri kita sendiri, adakah cahaya yang sama didalam diri kita seperti sinar?

Bagi anda yang masih punya ibu dan ayah yang mungkin saat ini mereka sudah tua renta dan tak bisa berbuat apa2, masihkah anda rawat mereka dengan kasih sayang seperti mereka merawat anda sewaktu kecil?
Atau anda titipkan ke panti2 jompo?
Semoga cerita ini menginspirasi kita semua...


Juliet akhirnya memilih mati. Ia menegak racun dan tubuhnya terkapar disisi Romeo... Yup! Bagi banyak orang, kisah Romeo dan Juliet adalah simbol kesejatian plus ketulusan cinta. Tapi lain hal dengan Leo. Menurut Leo, Juliet itu bodoh!

"Bukankah kebodohan terbesar di dunia ini adalah ketika seseorang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri?" Ujar Leo, membela diri.

"Walaupun itu dilakukan atas nama cinta? sahut Led sambil mengerutkan kening.

"Ya," balas Leo sambil menerawang. Seolah ia melihat Juliet di atas langit-langit ruang dayaka di Padum.

"Kebodohan sampai kapanpun akan tetap menjadi kebodohan walaupun dilakukan atas nama cinta..."

"Lho, bukankah cinta itu memerlukan pengorbanan?" sanggah Led.

"Pengorbanan yang dilakukan tanpa logika adalah pengorbanan yang sia-sia. Terbukti, ketika Juliet memilih mati, kisah mereka berakhir. Coba kalau Juliet memilih hidup, mungkin kisahnya akan berakhir dengan bahagia".

"Lho, tapi khan, Shakespeare menginginkan Juliet mati."

"Tapi kematian Juliet bukan semata-mata karena rasa cintanya yang sejati, tapi semata-mata agar ceritanya menjadi menarik. Bukankah cerita yang berakhir dengan tragis akan lebih menarik? Sampek Engtay, Siti Nurbaya, misalnya..."

"Jadi pengorbanan Juliet bukan karena cinta sejatinya pada Romeo?"

"Sudah jelas, khan?"

"Trus apa artinya pengorbanan Juliet?"

"Bagi Romeo, pengorbanan Juliet nggak berarti apapun. Soalnya orang yang udah mati nggak mungkin merasakan cinta lagi. Tapi bagi kita, kematian dan pengorbanan Juliet bisa jadi pelajaran penting :
jangan sampai cinta itu membuat kita buta dan kehilangan logika!" Tegas Leo, sambil mengenang kembali peristiwa akhir tahun 2008 yang lalu, ketika seorang gadis bloon, mau membunuh diri demi mendapatkan hatinya.

Led mengangguk-angguk mesti ia belum sepenuhnya paham maksud Leo. Otak tuh anak emang sulit banget diterka jalan pikirannya. 'Kadang cara berpikirnya suka terbalik, tapi kalau dipikir-pikir ternyata ada benarnya juga.' dalam batin Led berucap.

"Heh, Pernah nonton film titanic, kapal tenggelem" tanya Leo.

Led mengganguk lagi, kali ini sambil menerka apa lagi yang bakal di bahas Leo.

"Cinta Rose kepada Jack pun nggak kalah tulus dengan cintanya juliet kepada Romeo. Tapi ketika Jack akhirnya mati, bukan berarti Rose lantas bubuh diri. Cintanya yang besar dan rasa kehilangan nggak membuatnya kehilangan kendali. Kendali itu tetap ada di otaknya. Itulah cinta sejati."

"Maksudnya ?"

"Kita selalu menyambut kedatangan orang yang kita cintai dengan mata dan hati yang berbinar-binar namun selalu mengiringi kepergiaannya dengan air mata dan keputusasaan. Cinta sejati adalah ketika kita menerima kepergiannya dengan ketulusan yang sama ketika kita menyambut kedatangannya. Karena pengorbanan terbesar adalah ketika kita harus tetap hidup sementara orang yang kita cintai telah mati..."
Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi.
Dia bertanya dengan penuh harapan:
“Bagaimana anakku?
Apakah dia dapat disembuhkan?
Kapan saya boleh menemuinya?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu tidak tertolong”

Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker?
Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?”
Di mana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu?”

Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengan anak ibu selama beberapa waktu?
Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke universitas.

” Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya.
Dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?”
perawat itu bertanya.
Bu Sally mengangguk.
Perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya didalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, “Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk diteliti di Universitas.
Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.
Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti.
Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.’”

Bu Sally terus bercerita,
“Anakku itu memiliki hati emas.
Jimmy selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya. “

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama enam bulan di sana untuk merawat Jimmy.
Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya.
Perjalanan pulang sungguh sulit baginya.
Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong.

Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu.
Kemudian membaringkan dirinya di tempat tidur.
Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur.

Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga.
Di samping bantalnya terdapat sehelai surat yang terlipat.

Surat itu berbunyi:
“Mama tercinta, Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.
Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu ma.
Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi.
Sebelum saat itu tiba, jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa ma..
Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.
Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan.

Jangan sedih karena memikirkan aku ma.
Tempat aku berada sekarang begitu indah.
Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah.

Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sana.
Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin.
Tapi saya senang melihatnya terbang.

Dan apa mama tahu apa yang kulihat?
Yesus tidak terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia.
Tapi, ketika aku melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku menemui Allah Bapa!

Tebak ma apa yang terjadi?
Aku boleh duduk di pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.
Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain.
Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya.
Tapi mama tahu, Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untukku menulis surat ini kepada mama tercinta. Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma.
Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya ‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan- Nya?
Allah mengatakan Dia berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus di salib.
Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak.

Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain mama sendiri.
Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong.
Luar biasa kan ma?

Sekarang saya harus mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam.
Bapa memerlukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan.
Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya.
Aku yakin makanannya akan lezat sekali.

Oh, aku hampir lupa memberitahukanmu ma.
Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.
Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk menjemputku.
Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa!

Bagaimana ma?

Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus dan aku.” *



“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke Rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,”Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?”

Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya.
“Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus
ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter.
Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan
telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah
bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar
namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”


Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang
yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”


Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia.
Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

Mendengar hal itu, sang anak pun tak mampu menghentikan tetesan air mata, dalam hatinya dia bangga dan beruntung memiliki ibu yang begitu baiknya.
~Luar biasa sekali pengorbanan seorang ibu, dalam kehidupan anaknya. Demi anaknya, apapun rela diberikan untuk kebahagiaannya. Maka dari itu, sebagai seorang yang bermoral dan beretika, kita pun harusnya tidak boleh melupakan jasa dan perngorbanan orang tua kita terhadap kita. Sikap berbakti dan tanggung jawab harus kita tanamkan sejak dini di hati dan perbuatan kita, sehingga kita dapat menjadi manusia yang bijaksana~
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.
Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.
Ibuku hanya memiliki satu kaki dan mata. Aku membencinya sungguh memalukan.
Ia menjadi juru masak di rumah tetanggaku dan berjualan kue di sekolahku, untuk membiayai keluarga.
Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini?
Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Ibuku terdiam hanya memandang.

Keesokan harinya di sekolah. ”Ibumu hanya punya satu kaki dan satu mata. ?!?!”
Iieeeeee, jerit seorang temanku.
Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu,
“Bu, Mengapa Ibu tidak punya satu kaki dan satu mata lainnya?
Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!”
Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak,
tapi pada saat yg bersamaan,lega rasanya sudah mengungkapkan apa yg ingin sekali kukatakan selama ini.
Mungkin krn Ibu tidak menghukumku, aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku
sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya.
Ia memandangku sejenak, dan kemudian berlalu dengan kaki pincang.
Akibat perkataanku tadi, hatinya tertusuk. Walaupun begitu,
aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu kaki dan matanya.
Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun, ibuku terus bekerja membelikanku baju,
buku sekolah, membayar uang sekolah.
Dan akhirnya aku lulus dan mendapat beasiswa masuk perguruan tinggi.
Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah.
Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak.
Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses.
Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.

Kebahagian ini bertambah terus dan terus,
ketika ibuku datang ke rumahku. Apa?! Siapa ini?! ''agak kaget'' Itu ibuku.
Dengan terlihat kepanasan di wajahnya, berkeringat dan
terengah-engah dengan kaki dan mata satunya.
Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan,
ngeri melihat bentuk ibuku yang gak karu-karuan. Kataku,
“Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!” ”Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !
” ”KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!” Ibuku hanya menjawab perlahan,
“Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu dengan tongkat kakinya.
Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Jakarta.
Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana.
Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja.

Di sana, kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun.
Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku. ”Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang..
Dan aku tidak akan pergi ke Jakarta lagi. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sekali ?
Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu.
Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau. Dan aku minta maaf karena
hanya membuatmu malu dengan keadaan cacat fisiku.

Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan ibu mengalami kecelakaan ,
ketika ibu masih hamil seseorang telah dengan sengaja menabrak kaki ibu hingga patah.
Tetapi untung kandungan ibu selamat, akhirnya ibu melahirkan bayi lucu yaitu kamu,
tetapi sayang tuhan hanya memberikan mu satu mata.
Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan mata satu.
Maka aku berikan mata satuku kepadamu,.
Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, ditempatku, dengan mata itu.
Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri,
“Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”

Akupun menangis sekeras dan memeluk ibuku erat-erat meminta maaf,
namun sayang ternyata Ibuku sudah beberapa jam lalu meninggal dalam kesendiriannya.

Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain!
Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!
Kisah ini terjadi di Cina pada zaman dahulu. Ada seorang wanita yang bernama Ling-ling, ia merupakan istri dari Aloy, seorang pria yang hidup mapan, dan mempunyai seorang ibu. Ling-ling, merupakan seorang istri yang baik. Namun ia merasakan bahwa mertuanya, ibu dari suaminya Aloy, sangat tidak menyukainya. 

Ia merasakan bahwa apapun yang ia lakukan salah di hadapan mertuanya. Ling-ling merasa bahwa mertuanya ini sangat tidak menyenangkan. Ia merasakan bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya. Kepribadian mereka berbeda. Ling-ling merasa dikritik terus oleh mertuanya ini. Waktu berjalan, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, Ling-ling merasa sudah tidak nyaman lagi dengan mertuanya ini.

Walau tidak terjadi pertengkaran mulut, namun suasana saling diam itu berlangsung antara Ling-ling dan mertuanya. Suasana ini juga membuat Aloy menjadi serba salah dan tidak tenang.
Akhirnya Ling-ling merasa tidak tahan lagi dengan sikap mertuanya, dan memutuskan untuk mengambil tindakan.

Ling-ling akhirnya memutuskan menemui Mr.Li, sahabat baik ayahnya, yang punya usaha pengobatan tradisional Cina. Ia berkeluh kesah, menceritakan segala keburukan sikap mertuanya yang dirasakannya, dan berharap agar Mr.Li mau memberikannya sebuah racun untuk mertuanya ini agar semua keributan dan ketegangan dapat hilang.


Mr.Li diam sejenak mendengarkan semua ucapan Ling-ling, kemudian dia berkata,”Oke, saya akan membantu kamu. Saya akan memberikan sebuah racun yang ampuh buat mertuamu. Racun yang membunuh perlahan-lahan, jadi tidak mendadak, agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang. Racun ini akan bekerja setahun, jadi kalau mulai dipakai, setahun kemudian orang yang memakan racun ini akan mati. Nah, kamu harus melakukan apa yang saya sarankan, kamu bersedia?”
“Ya,..saya bersedia Mr.Li. Saya akan melakukan apapun agar ketegangan yang ada selama ini bisa hilang,”jawab Ling-ling.


“Oke. Kamu masakkan makanan yang enak-enak buat mertuamu itu, dan campurkan racun ini di setiap hari masakan kamu, jadi racun ini bekerja sedikit demi sedikit. Nah, untuk tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang pada waktu ia meninggal, kamu harus bersikap baik dan bertindak ramah terhadap mertuamu itu. Janganlah berdebat dengannya, taati kata-katanya, perlakukan dia seperti kamu memperlakukan ayah ibumu dulu,”jelas Mr.Li pada Ling-ling.


“oke. saya akan lakukan apa yang Mr.Li sarankan,”jawab Ling-ling sambil menerima racun itu. Lantas ia pun pulang ke rumah dengan berseri-seri.
Ia pun melakukan apa yang diperintahkan Mr.Li. Ia setiap harinya memasakkan makanan-makanan enak buat mertuanya, dan bersikap baik dan ramah pada mertuanya. Ia pun menghindari perdebatan dengan mertuanya. Ia belajar mengendalikan emosinya, menghormati mertuanya, agar orang-orang tidak curiga padanya nanti.


Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu. Ling-ling bersikap baik pada ibu mertuanya, melayani dengan baik, memasakkan makanan yang enak setiap harinya, dan tidak berdebat lagi. Ia sudah belajar mengendalikan emosinya, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibunya sendiri.


Sepuluh bulan berlalu. Rumah yang biasanya penuh ketegangan dan keributan, menjadi damai dan tenang. Tidak pernah lagi terdengar cekcok antara Ling-ling dan mertuanya. Sekalipun ada perbedaan pendapat, Ling-ling tidak lagi berdebat dengan mertuanya, yang sekarang kelihatan jauh lebih ramah, baik, enak diajak ngobrol dan mudah ditemani. Semuanya berubah.


Sikap ibu mertua berubah jauh dirasakan Ling-ling. Mertuanya dirasakan sangat baik dan mempunyai kepribadian yang ternyata menyenangkan, sama seperti ibunya Ling-ling. Mertuanya pun terus bercerita pada teman-temannya bahwa Ling-ling adalah menantu yang baik. Hubungan mereka berjalan seperti layaknya seorang ibu dan anak.


Memasuki bulan ke-11, Ling-ling merasa gelisah. Ia merasa berdosa besar telah memberikan racun pada mertuanya yang ternyata berhati baik dan mempunyai kepribadian menyenangkan pada dirinya. Ia bergegas menemui Mr.Li untuk minta pertolongan.


“Mr.Li…tolonglah saya. Saya merasa berdosa sekali terhadap ibu mertua saya. Saya telah memberikan racun yang dulu saya minta, selama 11 bulan berjalan ini. Ibu mertua saya ini baik sekali dan menghargai semua pendapat-pendapatku. Saya mohon agar Mr.Li dapat memberikan penawar buat racun yang sudah saya berikan ini.. Saya mohon… Saya tidak ingin ibu mertua saya meninggal… Saya mohon..tolong berikan penawarnya…” Pinta Ling-ling pada Mr.Li.


Mr.Li hanya tersenyum, “Ling-ling, kamu tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun agar kamu berikan pada ibu mertuamu. Yang saya berikan dulu dan kamu campurkan ke dalam masakanmu itu adalah vitamin. Satu-satunya racun yang pernah ada adalah di dalam pikiran dan sikapmu terhadapnya. Tapi semuanya sekarang sudah lenyap berkat kasih sayang yang engkau berikan pada ibu mertuamu..


Nah, teman-teman.. cerita ini selalu saya ingat.. Saya terapkan dalam kehidupan saya.. Cerita ini membawa hikmah kehidupan berarti bagi saya pribadi.. membantu menjadikan saya di proses menuju kebijakan.. cerita ini juga memotivasi saya dalam membina hubungan…
Hampir setiap orang di dunia ini memilik pasangan dan ada yang akhirnya menikah atau pun tidak walaupun sudah bersama dalam waktu lama, percayakah Anda bahwa sebuah pernikahan ditentukan oleh jodoh, ini ada salah satu legenda yang bisa membuktikan hal tersebut.

Pada zaman Dinasti Tang, ada seseorang laki-laki bernama Wei Gu. Suatu hari ia pergi ke wilayah Songcheng. Pada malam harinya, ia melihat seorang laki-laki tua sedang membaca buku besar dan sangat tebal, membawa tas besar berisi banyak benang merah duduk di bawah sinar bulan.

Dengan penuh penasaran dia bertanya pada laki-laki tua itu, “Orang tua, bisa anda jelaskan buku apa yang anda baca ini?”

Laki-laki tua itu berkata, “buku ini berisi tentang perjodohan antara laki-laki dan perempuan di seluruh dunia.”

Wei menjadi lebih terkejut dan bertanya: "Lalu apa maksud benang merah di tas besar Anda ? "

Orang tua tersenyum dan berkata: "Benang merah ini digunakan untuk mengikat kaki setiap pasangan. Jika mereka yang diikat dengan benang merah, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, pada akhirnya mereka tetap akan menikah. "

Gu Wei tidak percaya, tapi dia masih penasaran tentang orang tua ini. Ketika dia ingin bertanya lagi, orang tua itu berdiri dan berjalan menuju pasar dengan membawa buku dan tas miliknya. Wei mengikutinya.

Ketika orang tua itu melihat seorang wanita buta yang membawa seorang gadis berumur tiga tahun di jalan, ia berkata kepada Wei: "Gadis muda ini akan menjadi istri Anda di masa depan." Kemudian orang tua itu lenyap.

Wei kaget dan marah, kemudian memerintahkan pelayannya untuk membunuh anak tersebut. Pelayan itu segera menjalankan perintah tuannya, kemudian melarikan diri.

Setelah 14 tahun berlalu, Wei mempunyai tunangan, putri dari Wang Tai (Gubernur Xiangzhou). Gadis itu sangat cantik dan baik hati, namun ada sedikit bekas luka di alisnya. Mereka akan segera melangsungkan ikatan perkawinan.

Suatu hari Wei bertanya kepada bapak mertuanya tentang bekas luka yang dimiliki istrinya. Wang mengatakan putrinya ditikam seseorang, ketika dia dibawa oleh pengasuhnya di sebuah pasar. Karena segera menyelamatkan diri, ia tidak mengalami luka serius, hanya punya luka di alisnya. Wei tegang dan bertanya: "apakah pengasuh itu buta?" Wang mengatakan: "ya, tapi bagaimana Anda bisa tahu itu? "Kemudian Wei memberitahu Wang, Dia menceritakan tentang dirinya dan orang tua yang ditemuinya di Songcheng. Wang sangat terkejut akan hal ini.

Wei dan istrinya memahami perkawinan mereka telah diatur oleh ikatan perjodohan. Jadi mereka sangat menghargai pernikahan mereka dan hidup bahagia.
Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya. Lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus dan akan diperlihatkan pada saat pernikahan Putri Diana.

Sang pelukis sangat senang ketika menyelesaikan lukisannya dan memandangi lukisannya yang berukuran 2x8m dan sambil memandanginya pelukis tersebut tanpa disadari telah berjalan mundur. Dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. Dia terus berjalan mundur hingga di belakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia akan mengakhiri hidupnya.

Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebut tapi tidak jadi karena dia berpikir mungkin ketika mendengar teriakannya, pelukis itu akan kaget dan malah jatuh ke belakang.

Kemudian orang tersebut mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak. Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. Tetapi beberapa orang yang ada di situ menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari yang indah. Tetapi lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya yang ada pada kita kalau kita melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. Tapi perlu kita ketahui Tuhan selalu menyediakan yang terbaik untuk kita.
Berasnya adalah beras ketan, kualinya adalah kuali tanah liat, apinya berasal dari batu bara. Tiap hari subuh jam 4.30, pria ini menyulut api. Dalam kuali diisi air, untuk merendam beras yang telah dicuci. Menunggu air mendidih, beras dimasukkan. Menggunakan api besar memasak selama 10 menit. Setelah itu dirubah menjadi api kecil untuk direbus. Pria itu di pinggir kompor sedang membungkuk, menggunakan gayung mengaduk-aduk dengan perlahan-lahan.

Setengah jam kemudian, pria tersebut dengan satu tangan membawa semangkuk bubur putih panas yang masih mengepulkan asapnya, tangan yang lain membawa sepiring sayur asin yang telah disiram dengan minyak wijen. Masuk ke dalam kamar tidur, memanggil istrinya untuk bangun.

Wanita itu membalikkan badan, mulutnya menggumamkan sesuatu dan tidur lagi. Pria itu mendengarkan suara dengkur istrinya yang sedang lelap. Dia tidak tega untuk memanggil lagi. Duduk dipinggir ranjang, mengawasi arloji dan melihat ke wajah istrinya , lalu melihat lagi ke arloji. Wanita itu mendadak meloncat keluar dari ranjang. Melihat arloji, tergesa-gesa mengenakan pakaian dan turun dari ranjang, sambil berkata "Sudah terlambat, mengapa tidak membangunkan saya?" Suaminya menyajikan bubur putih dan sayur asinnya sambil berkata,"Jangan cemas, masih ada waktu, makanlah buburnya dulu."

Buburnya adalah bubur putih polos, tanpa ada tambahan daging ayam atau pun telur ayam. Bubur semacam ini, menjadi sarapan pagi istrinya selama 5 tahun.

Ketika pria dan wanita ini menikah, tidak ada uang untuk pesta perkawinan, kedua insan ini hanya meletakkan tikar mereka masing-masing menjadi satu. Beginilah sudah jadi sekeluarga.

Pada saat malam pengantin, pria ini membawakan semangkuk bubur polos. Buburnya putih bersih, di bawah sinar lampu memancarkan cahaya yang berkilau. Pria itu berkata :"Lambungmu tidak baik, banyak makan bubur dapat menjaga maag." Dimakanlah bubur itu oleh istri-nya. Aroma sedap khas bubur, tidak hanya membuat lambungnya hangat, namun juga hatinya.

Mereka sama-sama bekerja di satu pabrik. Si wanita sepanjang tahun bekerja di pagi hari, yang pria sepanjang tahun bekerja pada malam hari. Setiap jam empat subuh sang suami pulang dari kerja. Sedang istrinya masuk jam setengah enam pagi. Waktu mereka untuk bersama pendek sekali hanya sekitar 1,5 jam.

Pulang dari kerja, hal pertama yang dikerjakan oleh si pria adalah menyulut api, mengisi kuali. Pria ini hanya bisa memasak bubur polos. Namun semangkuk bubur polos ini, ternyata telah memberi gizi kepada si wanita hingga air mukanya merah, cantik bagaikan bunga.

Suatu hari, pabrik mengalami kerugian dan si pria terkena PHK. Akan tetapi bagi mereka kehidupan ini masih harus dilanjutkan. Pria ini mengeluarkan uang tabungannya yang sangat sedikit sedangkan istrinya menjual cincin emas warisan ibunya. Mengumpulkan uang membuka satu toko kelontong. Satu mangkuk, satu buah sapu, satu teko air. Keuntungannya tidaklah banyak. Tetapi si pria ini mengerjakan dengan sepenuh hati. Setelah si wanita pulang dari kantor, juga membantu mengurusi toko. Ketika tidak ada pembeli, pria dan wanita ini duduk diantara setumpuk mangkuk, kuali, gayung serta ember, dengan bahagia mereka berandai-andai tentang masa depan.

Si pria berkata:"Setelah ada duit, toko cabang akan saya buka dimana-mana." Istrinya menyahut,"Waktu itu saya juga tidak perlu kerja lagi, setiap hari di rumah membuat beraneka ragam makanan untukmu." Pria itu berkata,"Mana perlu dirimu memasak, ingin makan apa, kita langsung pergi ke restoran saja." Dengan manja istrinya bilang,"Tidak, saya selalu ingin makan masakan bubur polosmu..." Pria ini langsung merangkul pundak si wanita, matanya agak membasah.

Pria ini masih saja setiap hari bangun dari tidur tepat pukul 4.30 subuh, menyulut api memasak bubur. Sambil memasak, memikirkan dalam toko sedang kekurangan barang apa. Kadang kala konsentrasinya terpecah. Buburnya hangus di dasar kuali, kadang pula jika ia terlalu lelah dan mengantuk, buburnya meluber keluar dari kuali. Suatu hari istrinya bangun pagi hari. Bubur di atas kompor sedang mendidih mengeluarkan buih ombak. Sedangkan suaminya tidur terlelap dengan kepala di topangkan di atas lutut. Dengan perlahan dan hati-hati si istri memeluk kepala suaminya, hatinya merasa sakit bagaikan ditarik-tarik.

Sejak saat itu, wanita ini menolak dengan tegas jika suaminya ingin memasakkan bubur untuk dirinya. Karena ia melihat si suami sungguh terlalu lelah.

Perdagangan si pria kian hari kian lancar, sampai pada tahun ke tujuh, supermarket cabangnya sungguh telah buka dimana-mana. Si wanita sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mereka telah membeli sebuah rumah besar, dapurnya dilengkapi dengan sangat indah dan unik, yang kurang hanya bau asap api. Karena waktu untuk pulang makan si pria ini, semakin lama semakin sedikit. Dia selalu sibuk, terlalu banyak jamuan makan malam, kadang dalam satu malam ia harus menghadiri empat jamuan makan malam. Mula-mula wanita ini menggerutu, tapi si pria bilang,"Bukankah semua ini demi keluarga? Bukankah semua ini agar kamu bisa hidup lebih nyaman?" Akhir-nya si wanita capai sendiri, lambat laun juga sudah terbiasa.

Wanita ini sudah sangat lama sekali tidak pernah makan bubur polos.

Suatu hari, mendadak pria ini diberitahu agar menghadiri pemakaman dari seorang temannya. Dia heran, mengapa beberapa hari lalu temannya ini masih baik-baik saja, hari ini orangnya telah tiada? Di dalam rumah duka, dia melihat istri temannya ini. Yang dulunya sangat cantik dan anggun, dalam semalam menjadi pucat, lesu dan tua. Dia menangis tersedu-sedu. Dalam mulutnya menggumamkan kata-kata:"Siapa yang akanmengantarku kerja dan menjemputku pulang kerja? Siapa yang akan menalikan sepatu untukku ?"

Si pria itu merasa sesak nafasnya, terpikirkan akan istrinya. Sekilas terkenang kebiasaannya dulu di pagi hari, memasakkan bubur untuk istrinya, terpikir juga olehnya ketika istrinya menerima semangkuk bubur polos itu, matanya memancarkan sinar kebahagiaan dan kepuasan.

Si pria ini bergegas pulang ke rumah. Membuka pintu, melihat istrinya yang sedang meringkuk tidur di atas sofa. Televisi masih menyala, home theater juga masih menyala. Di atas meja ruang tamu berserakan penuh dengan berbagai jenis majalah mode. Pria ini berlutut di depan sofa, tangannya dengan perlahan membelai rambut wanita ini. Air muka wanita ini suram, di dalam kerutan-kerutan halus, wajahnya telah tertulis penuh kehampaan.

Dia mengambil selimut untuk menyelimuti wanita ini. Mendadak wanita ini terjaga dari tidurnya. Melihat si pria, wanita ini mengusap-usap matanya. Setelah memastikan itu adalah suaminya, raut wajahnya segera memerah. Wanita ini bergegas untuk berdiri. "Kamu mungkin belum makan, akan saya buatkan...." Si pria tiba-tiba memeluknya dari belakang,"Tidak, biarkan saya yang memasakkanmu bubur polos." Hampir setengah hari wanita ini tidak mengeluarkan sepatah kata. Ada tetesan air mata hangat, yang menetes di tangan suaminya.

Hari itu, si pria sambil memasak bubur, dia berpikir,"Sebenarnya beraneka macam variasi produk bubur, tidak bisa me-ninggalkan bubur polos sebagai dasarnya. Dan segala kebahagiaan yang ada hanyalah di dasari oleh bubur polos, selain itu hanyalah sebagai penyedap."