Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Orang Hakka bukanlah Etnis suku di China, tetapi merupakan bagian dari Etnis Suku Han. Mengenali orang Hakka yang telah banyak melahirkan pemimpin dunia. Sedikit cerita lain dari sub-sub suku di China.
 
Selain 56 etnis Suku di China, masih terdapat banyak Sub Suku lainnya di China. Salah satunya yang terkenal adalah Orang Hakka. Hakka mempunyai arti keluarga pendatang dimana hak = tamu/pendatang dan ka = keluarga.
Orang-orang Hakka dalam bahasa mandarin: 客家人Kèjiā ren, adalah Suku Han China yang berbicara dalam bahasa Hakka, tersebar di provinsi GuangZhou, JiangXi, Fujian. Provinsi Fujian merupakan daerah pusat pembentukan orang Hakka, dan mendapat julukan sebagai Tanah Leluhur Orang Hakka.

Di Indonesia orang hakka banyak terdapat di Aceh, Bangka-Belitung, Jawa, serta Kalimantan Barat. Orang Hakka juga tersebar merata hampir di seluruh dunia.
Orang Hakka mempunyai bahasa sendiri yaitu bahasa Ke. Bahasa Ke ini salah satu dari 7 bahasa daerah utama yang digunakan dalam bahasa suku China. Di Indonesia bahasa Ke ini dikenal sebagai Kejia atau bahasa Khek.

Dikenal sebagai orang-orang yang rajin dan ulet bekerja. Julukan ini kilas balik ke jaman dahulu. Orang Hakka hidup berpindah pindah, dari tanah yang satu ke tanah yang lain, oleh sebab itu mereka dinamakan keluarga pendatang, mereka membuka tanah di daerah yang berbukit, menjadikan daerah tersebut subur dan berkembang. Selain itu mereka adalah pedagang yang handal, jika ada pepatah mengatakan orang China adalah orang-orang yang rajin dan ulet, orang-orang Hakka ini dua kali lipat daripada orang-orang China kerajinan dan keuletannya, pantang menyerah. Tidak mengenal perbedaan gender, wanita dan lelaki Hakka sama sama harus bekerja.

Dunia mengenal pemimpin China Modern, Dr Sun Yat Sen. Bapak Republik China ini adalah orang Hakka, begitu juga Deng Xiaoping, salah satu pemimpin China yang membawa China membuka diri memasuki era kebebasan, sehingga China menjadi negara maju.
Siapa yang tidak mengenal Lee Kuan Yew, juga anaknya Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapore saat ini, mereka adalah keturunan orang Hakka. Perdana menteri Thaksin Shinawatra adalah orang Hakka dari propinsi Chiang Mai,  Ex Gubernur Jendral Canada Adriane Clarkson adalah keluarga Hakka yang terkenal di Canada, keluarga Poy.
Actor Chow Yun Fat adalah orang Hakka, begitu juga Tjong A Fie, pengusaha terkenal dari Medan pada tahun 1900. Corazon Aquino juga keturunan orang Hakka, pengusaha Prayogo Pangestu dan Marie Pangestu.  Gus Dur dan Yusril Ihza Mahendra pernah menjadi penasehat orang-orang Hakka di Indonesia.

Mengapa orang-orang Hakka tersebar di seluruh dunia ?

Pada abad ke 19, terjadi pemberontakan Taiping di China. Pemimpin pemberontakan ini adalah orang Hakka yaitu Hong Xiuquan, pemberontakan ini hampir menjatuhkan Dinasti Qing. Setelah pemberontakan ini ditumpas oleh Pemerintah Qing, terjadi tekanan terhadap orang-orang Hakka. Tidak lama kemudian, terjadi lagi perang etnis yang mengakibatkan kematian berjuta orang dan paling berdarah di China. Pertentangan orang-orang Hakka dengan orang-orang di propinsi menjadikan banyak orang Hakka yang keluar dari daerah dan merantau ke seluruh dunia. Menjadikan populasi orang Hakka tersebar hampir di seluruh dunia.
Situasi dalam negeri China dengan banyaknya tekanan yang dialami orang-orang Hakka, mengakibatkan orang Hakka lebih mudah beradaptasi dengan kepahitan hidup. Mereka menjadi lebih progresif dan mempunyai pikiran yang lebih bebas, dan keinginan maju, menuntut perubahan dalam kehidupan. Pemikiran orang-orang Hakka yang tidak mempertahankan adat dan tradisi yang lama, banyak pelopor2 ide baru adalah orang-orang Hakka.
Di Indonesia, komunitas orang Hakka terbesar adalah Kalimantan Barat. Mereka mendarat di Kalimantan pada abad ke 19. Orang Hakka dari Propinsi GuangZhou mendirikan Republik LanFang yang berdiri selama 107 tahun, dan mempunyai 10 Presiden, hingga diambil alih oleh Belanda pada tahun 1884.
Populasi orang Hakka terbesar kedua adalah di pulau Bangka Belitung. Mereka mendarat pertama kali pada tahun 1700 dari Propinsi GuangZhou. Orang Hakka berbaur dengan penduduk melayu setempat, ada yang bekerja di pertambangan timah, dan ada juga yang membuka toko kelontong.

Tu Lou

Di China salah satu peninggalan orang Hakka yang sampai saat ini masih ada dan menjadi salah satu warisan utama dunia UNESCO adalah rumah orang Hakka.
Tu Lou mempunyai arti rumah tanah. Dibangun sejak abad ke 12, Tu Lou terletak di bagian barat daya Propinsi Fu Jian di selatan China. Mempunyai bentuk bulat, persegi panjang atau empat segi. Hanya mempunyai satu pintu masuk dan di lantai pertama tidak terdapat jendela, untuk menghindari masuknya perampok.
Untuk melindungi diri terhadap perampok dan binatang liar, mereka mengunakan tanah liat dan kayu, membangun tempat yang tinggi, bangunan bertingkat melingkar di mana seluruh keluarga atau klan bisa hidup bersama. Inilah rumah tanah yang kita lihat sekarang ini. Bangunan ini dianggap sebagai keajaiban oleh ribuan ahli, sarjana dan pengunjung yang telah terpesona oleh keindahan bangunan ini.

Rumah tanah ini adalah benteng untuk melindungi diri orang Hakka melawan musuh. Selain lorong-lorong aneh, rumah tanah ini memiliki fungsi pencegahan kebakaran, menjaga terhadap binatang liar dan memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik, selain itu tahan terhadap gempa bumi. Tu Lou ini mempunyai keistimewaan, hangat sewaktu musim dingin, dan dingin sewaktu musim panas.

Tu Lou terdiri dari bangunan yang dikelilingi oleh lorong2 yang besar yang menampung ratusan kamar.  Dengan semua ruang, gudang, sumur dan kamar tidur di dalam, fungsi bangunan besar seperti hampir seperti kota benteng kecil.

Ukuran bangunan ini ada yang kecil, menengah dan besar. Yang kecil dengan ketinggian tembok 1 – 2 M, hanya memiliki satu lorong dan diisi dengan 21-28 kamar. Ukuran menengah dengan tinggi 3 – 4 M dengan ruang terbuka yang besar , ada yang memiliki satu lorong atau 2 lorong, berisi 30-40 kamar. Bangunan-bangunan bulat yang lebih besar biasanya memiliki ketinggian 4- 5 M yang terdiri dari sebanyak tiga putaran memiliki sekitar 42-58 kamar.  Ada lagi bangunan bulat sangat kecil memiliki sekitar 12-18 kamar.

Luas Tu Lou ini sekitar 10.200 m2 dan yang terbesar mencapai 40.000 m2 dengan ketinggian 3-4 lantai dan ketebalan dinding mencapai 1,8 m, dan ditinggali sebanyak 800 orang.
Ingatkah pembaca dengan film KungFu Hustle ? Tempat tinggal para penjahat menyerupai Tu Lou.

Salah satu Tu Lou yang terkenal adalah Tsap Hing , dibangun pada tahun 1419 mengunakan bambu dan tanah liat, dengan diameter 66 M, ketebalan tembok 1, 6 M, terdiri dari 4 tingkat, mempunyai 247 kamar. Tsap Hing Tu Lou terletak di desa ChuXi, Yong Ding.
Tu Lou yang tertua adalah Fu Xing Lou terdapat di kota Le Hu dibangun lebih dari 1200 tahun lalu, menjadi fosil hidup saksi karya arsitektur orang Hakka.

Lebih dari dua puluh ribu dari rumah-rumah ini masih berdiri hari ini, sepuluh di antaranya berusia lebih dari 600 tahun. Sebagian Tu Lou masih dijadikan tempat tinggal oleh orang Hakka, banyak juga kaum muda yang tidak menyukai tinggal di Tu Lou, dan pindah ke apartment modern.

Hakka Tulou terbagi menjadi :

Hongkeng Tulou Cluster dikenal sebagai Desa Budaya Yongding Hakka, terletak di kota Hukeng. Tu Lou terlengkap dan masih terawat dengan baik. Ada hampir 100 Tu Lou didesa ini, berdiri di sepanjang tepian sungai.

Chengqilou Tu Lou terbesar di Yongding County, dijuluki “the King of Tulou” berumur hampir 300 tahun, mempunyai 400 kamar, dan pernah dipergunakan oleh 80 keluarga hidup bersama.
Tianluokeng Tulou Cluster, terletak di Shangban Village, Shuyang Town, mempunyai 4 Tu Lou bulat dan 1 Tu Lou tanah persegi panjang. Tu Lou ini salah satu yang terkenal, Tu Lou ini mempunyai istilah Si Cai Yi Tang, 4 sayur dan 1 sup.

Yuchang Lou, terletak di Desa Xiaban, Fuyulou dibangun pada 1308 dan merupakan salah satu Tu Lou tertua. Terkenal dengan bangunan lima pilar.
Changjiao Ancient Village, desa kuno yang indah ini diberi nama dari Jembatan Changjiao yang menghubungkan Heguilou dan Huaiyuanlou. Sepanjang tepi sungai adalah pohon beringin kuno, bangunan kuno dan petak-petak lahan pertanian. Berjalan melalui desa ini akan membawa anda kembali ke masa silam.

Eryilou, dibangun pada tahun 1770, disebut Raja dari 1.000 Tulou. Dengan diameter bidang 73,4 meter, rumah Eryilou terdapat 192 kamar terdiri dari 4 lantai, dan mempunyai halaman dengan luas 600 meter persegi. Eryilou ini selamat dari pengepungan musuh selama 3 bulan, mortil yang ditembakkan hanya meruntuhkan sebagian dinding luar.
Adakah pembaca dan penulis Baltyra yang keturunan orang Hakka ? Jika ada, Yup..kalian adalah keturunan orang-orang hebat yang telah menorehkan nama dalam sejarah di China dan Dunia.




Sumber :  baltyra.com
Bahasa Khek yang Tetap Lestari
Senin, 22 November 2010 | 10:31 WIB
Oleh Zaenal Abidin

Perempuan paruh baya asal Jawa itu agak terkaget-kaget ketika datang pertama kalinya di Kota Pontianak, saat ingin berbelanja sayuran.

Ia terkaget tidak hanya karena harga sayuran yang mahal dibanding di daerah asalnya di Jawa Tengah, tetapi pedagang sayuran di pinggir jalan itu ternyata seorang Tionghoa, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di daerahnya.

Belum lagi, saat ia menawar terlalu rendah, laki-laki penjual itu malah berbicara kepada perempuan Tionghoa di sampingnya, yang kemungkinan istrinya, dengan bahasa yang tak dimengertinya.

Sekilas didengarnya, seperti bahasa di film-film Mandarin. Namun, setelah diberi tahu, ternyata mereka menggunakan bahasa tutur asli dari kalangan mereka, yakni bahasa Khek.

"Kalau di daerah saya, pada umumnya mereka (warga Tionghoa) berbicara kepada sesamanya menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur Jawa dengan dialek Jawa yang "medok" (kental). Jadi kita juga tahu. Tetapi di sini, bahasa di antara mereka familiar juga dan cukup kental," kata Anisya, warga Magelang, Jateng.

Di Pontianak atau Kalbar secara umum, warga Tionghoa memang fasih berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri, yang disebut sebagai bahasa Khek, walaupun di antara warga Tionghoa ada juga minoritas yang menggunakan bahasa Hoklo (Tewcu).

Di antara mereka kalau bertemu sesamanya menggunakan bahasa Khek, seperti halnya orang Melayu atau Jawa saat bertemu sesamanya menggunakan bahasa etnis mereka.

Bahasa Khek pada dasarnya memang bahasa dari daratan China, tetapi ia berbeda dengan bahasa Mandarin, yang menjadi salah satu bahasa internasional walau terdapat kosakata yang mirip-mirip.

Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, bahasa Khek memang menjadi bahasa pergaulan di keluarga-keluarga Tionghoa di Kalbar ini.

Walau yang tersebar bahasa Khek pasaran daripada bahasa Khek halus, kata Acui yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, menjadikan bahasa orang Hakka itu terjaga sebagai bahasa komunikasi warga Tionghoa. Tidak hanya di wilayah Pontianak, tetapi warga Tionghoa di daerah lain, seperti Singkawang, Sekadau, Sanggau, Sambas, Sintang, dan Ketapang, juga membiasakan berbahasa Khek dengan keluarga atau sesama etnis.

Bahkan untuk keluarga campuran, seperti keluarga dari pasangan warga Tionghoa dan Dayak, bahasa Khek tetap kental diajarkan.

Seorang peneliti asal Universiti Kebangsaan Malaysia, Chong Shin, dalam makalahnya (2005) tentang "Masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat: Tinjauan Pemilihan Bahasa di Kota Sekadau" terungkap bahwa warga Tionghoa dalam perkawinan campuran tetap berusaha mengajarkan bahasa Khek kepada anaknya walau bahasa lain juga diajarkan.

Seperti halnya, tulis Chongsin, yang mendapat cerita berasal dari informannya, seorang pria Tionghoa Khek menikahi perempuan Dayak Kerabat, maka anaknya tetap diajari berbahasa Khek dengan bapaknya dan berbahasa Kerabat dengan ibunya.

Sama halnya dengan saudara di pihak bapak (yang bersuku Tionghoa Khek), anak dari pernikahan campuran itu berbahasa Khek, tetapi saat dengan saudara dari pihak ibunya yang bersuku Dayak Kerabat, dia berbahasa Dayak Kerabat.

Chongsin juga menemukan, di dalam keluarga kawin campur, antara warga Tionghoa Hoklo (bapak)- Khek (ibu), bahasa sehari-hari di keluarganya adalah bahasa Khek.

Akan tetapi, pada hari-hari di mana istrinya berangkat ke Pontianak, pertukaran bahasa berlaku. Bapak di rumah itu mulai berbahasa Hoklo dengan anak-anaknya, dan anaknya membalas dan bertutur bahasa Hoklo dengan bapaknya.

Sekembali ibunya (penutur bahasa Khek) ke rumah lagi, dengan sendirinya bahasa harian diubah balik ke bahasa Khek, ungkap Chongs Shin.

Bagian dari multikulturisme

Bahasa Khek sendiri asal-muasalnya dari para leluhurnya, orang Hakka, yang merupakan bagian dari suku Han yang tersebar di kawasan pegunungan Provinsi Guangdong, Fujian, dan Guangxi di China sebelah utara.

Mereka beremigrasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penutur bahasa Khek di Indonesia cukup banyak, khususnya warga Tionghoa di Kalbar, Palembang, dan Bangka-Belitung.

Menurut peneliti budaya lokal asal Kalbar, Dedy Ari Asfar MA, bahasa Khek ini memang bukan bahasa daerah, tetapi bahasa ini menjadi bagian multikulturisme di masyarakat provinsi ini.

Berdasarkan pengamatannya, bahasa Khek ini berkembang pada ranah oralitas saja. Artinya, ini menjadi sekadar bahasa tutur dan pergaulan di keluarga warga Tionghoa dan interaksi antar-Tionghoa.

Perkembangan bahasa Khek, kata Dedy yang bekerja di Balai Bahasa Pontianak itu, tidak memiliki kedalaman dalam pelestariannya. Di sini tidak ada pengembangan linguistiknya di segi bahasa tulis, seni sastra, atau terstruktur diajarkan di kegiatan belajar formal atau semiformal, seperti kursus-kursus.

Bahkan, pada keluarga Tionghoa di Kalbar, anak-anak mereka saat ini mulai disuruh belajar bahasa Mandarin, setidaknya melalui kursus bahasa apabila di sekolahnya tidak diajarkannya.

Acui mengakui, anak-anak Tionghoadi kota-kota besar di Kalbar ada kecenderungan mulai mempelajari bahasa Mandarin secara sistematis. Namun, belajar bahasa Mandarin bukan masalah etnisitas atau rasa keturunan China, melainkan karena kegunaannya sebagai salah satu bahasa internasional.

"Hal ini dinilai akan baik bagi masa depan anak-anaknya di pergaulan internasional, di mana China juga mengalami perkembangan ekonomi terpesat di dunia saat ini," katanya.

Hal yang sama diakui Soni Sujaya, siswa SMA Santo Petrus Pontianak yang merupakan keturunan Tionghoa. Ia biasa berbahasa Khek dalam berkomunikasi di keluarga dan kerabatnya. Namun, ia juga disuruh belajar bahasa Mandarin.

"Antara bahasa Khek dan Mandarin banyak perbedaan walau ada yang mirip. Tetapi, kita tetap harus belajar Mandarin serius karena walau sudah bisa berbahasa Khek, bukan berarti mudah berbahasa Mandarin," katanya.

Perkembangan berbahasa Mandarin di warga keturunan Tionghoa, dalam pengamatan Acui, tidak akan menggeser bahasa Khek karena kebiasaan berbahasa Khek di keluarga Tionghoa sudah kental dan menurun secara alami dari generasi ke generasi.

Di samping itu, dengan komunitas Tionghoa di Kalbar yang cukup besar, yang diperkirakan sekitar 20-an persen, menurut Acui, bahasa Khek akan tetap lestari karena faktor lingkungan yang cukup besar itu bakal mendukungnya.

Apalagi sebagian warga dari komunitas lain di Kalbar, seperti Melayu, Dayak, dan Bugis, menurut pengamatan Acui, ada yang ikut mempelajarinya akibat adanya hubungan dagang dan sosio-ekonomi yang intens dengan warga Tionghoa berbahasa Khek.

Sumber : ANT